Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu dari 15 (lima belas) kabupaten/kota di wilayah Provinsi Lampung yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1997 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulang Bawang dan Kabupaten Daerah Tingkat II Tanggamus, yang diundangkan pada tanggal 3 Januari 1997 dan diresmikan menjadi kabupaten pada tanggal 21 Maret 1997. Secara geografis Kabupaten Tanggamus berada pada 104° 18΄ sampai  dengan  105°  12’ Bujur Timur dan  5°05΄ sampai  dengan  5°56΄ Lintang Selatan. dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten  Lampung  Barat, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Pringsewu
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Timur : Kabupaten Pringsewu
Sebelah Barat : Kabupaten Pesisir Barat

selanjutnya  ditengah-tengah  Kabupaten  Tanggamus  terdapat  Ibu Kota Kabupaten Tanggamus yaitu diwilayah Kecamatan Kota Agung Timur

 

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Tanggamus
Sumber: RPJM Kabupaten Tanggamus, 2018-2023

 

Luas Wilayah

Kabupaten Tanggamus memiliki luas wilayah 4.654,96 Km2 yang terdiri dari daratan 2.855,46 Km2 dan lautan 1.799,50 Km2 yang memiliki garis pantai sepanjang 202 Km. Secara lebih rinci , nama dan luas Kecamatan di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut .

Tabel 1. Wilayah Administratif di Kabupaten Tanggamus

No Kecamatan Luas ( Km2 ) Presentase
1 Wonosobo 209.63 4,50
2 Semaka 170.90 3,67
3 Bandar Negeri Semuong 98.12 2,11
4 Kota Agung 76.93 1,65
5 Pematang Sawa 185.29 3,98
6 Kota Agung Barat 101.30 2,18
7 Kota Agung Timur 73.33 1,58
8 Pulau Panggung 437.21 9,39
9 Ulu Belu 323.08 6,94
10 Air Naningan 186.35 4,00
11 Talang Padang 45.13 0,97
12 Sumberejo 56.77 1,22
13 Gisting 32.53 0,70
14 Gunung Alip 25.68 0,55
15 Pungung 232.40 4,99
16 Bulok 51.68 1,11
17 Cukuh Balak 133.76 2,87
18 Kelumbayan 121.09 2,60
19 Limau 240.61 5,17
20 Kelumbayan Barat 53.67 1,15
Jumlah 4.654.96 100,00

Sumber : Tanggamus dalam Angka 2020

Kondisi Fisik

  1. Topografi

Kondisi  topografi  perbukitan  bergelombang  menempati  sebagian besar wilayah Kabupaten Tanggamus seperti di Kecamatan Wonosobo, Pulau Panggung, Kota Agung, Talang Padang dan Cukuh Balak dengan ketinggian antara 700 – 1.500 meter diatas permukaan laut (mdpl). Berdasarkan kategorinya, kemiringan lereng yang membentuk permukaan ruang wilayah Kabupaten Tanggamus dibedakan kedalam 4 (empat) kelompok, yaitu kemiringan lereng antara 0 – 2 %, 2 – 5 %, 15 – 40 % dan > 40 %

.

Tabel 2. Kemiringan Lereng Yang Membentuk Permukaan Kabupaten Tanggamus

Kemiringan Lereng Antara Keterangan
0-2% Luas kemiringan lereng pada kelompok ini sebesar 19,28 % dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Tanggamus. Kecamatan yang memiliki lahan dengan kemiringan sangat datar (0-2%)
2-5% Sekitar 10,86 % dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Tanggamus merupakan lahan dengan kemiringan cukup datar. Kecamatan yang memiliki lahan dengan kemiringan cukup datar (2 – 15 % ) paling dominan adalah Kecamatan Kota Agung yaitu 8.580 Ha atau 23,47 % .
15-40 % Kemiringan dengan kategori ini adalah sebesar 58.179 Ha atau 17,33 % dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Tanggamus. Kecamatan Kota Agung merupakan kecamatan yang memiliki kemiringan 15 – 40 % paling besar yaitu 14.604 (25,10 % ).
>40% Kemiringan lereng yang mendominasi di wilayah Kabupaten Tanggamus adalah kemiringan > 40 %  sebesar 165.215 Ha atau 49,22 %  dari total wilayah  Kabupaten  Tanggamus.  Sebagian  besar  terdapat  di  Kecamatan Cukuh Balak dan Kecamatan Kelumbayan yaitu sebesar 37.127 Ha atau 22,47 %.

Sumber : RPJM Kabupaten Tanggamus, 2020

Kabupaten Tanggamus terletak pada ketinggian antara 0 sampai dengan 2.115 meter di atas permukaan air laut (mdpl). Berdasarkan kondisi topografinya, Kabupaten Tanggamus terbentuk dengan kondisi topografi wilayah yang bervariasi mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi (berbukit dan bergunung), Secara fisiografi wilayah Kabupaten Tanggamus dibagi menjadi 5 (lima) satuan morfologi yang mencerminkan keadaan topografi wilayahnya, yaitu dataran rendah, perbukitan, bergelombang, dataran tinggi, pegunungan dan perbukitan, serta kerucut gunung api. Bentang alamnya terdiri dari daratan 65 % yang dimanfaatkan untuk perumahan dan pekarangan sebanyak 37,10%, perkantoran sebanyak 37,04% dan lebih   kurang 35% dataran tinggi dimanfaatkan untuk perkebunan/pertanian sebanyak 40,71% dan fasilitas lainnya sebanyak 59,29%

 

  1. Geologi dan Morfologi

Berdasarkan jenisnya, batuan yang membentuk wilayah Kabupaten Tanggamus terdiri atas batuan pra tersier, batuan tersier yang meliputi batuan  gunung  api  andesit  formasi  tua,  dan  batuan  kwarter  berupa endapan  gunung  api  muda.  batuan  tersier  tersebar  cukup  luas  di wilayah  Kabupaten  Tanggamus.  Batuan  kwarter  tersebar  di  beberapa wilayah Kabupaten Tanggamus, namun yang cukup mendominasi terdapat di Kecamatan Pulau Panggung dan Kecamatan Wonosobo. Sementara alluvium yang berupa endapan permukaan lebih banyak terdapat di Kecamatan Wonosobo.

Wilayah Kabupaten Tanggamus secara geologis termasuk dalam formasi kwarter. Formasi yang terdapat di Kabupaten Tanggamus merupakan rangkaian pegunungan Bukit Barisan berupa satu rangkaian yang terletak di sebelah barat patahan (sesar) Semangka dan lainnya terletak di bagian timur patahan (sesar) Semangka. Tanah yang terdapat di Kabupaten Tanggamus terbagi dalam beberapa jenis tanah. Penentuan jenis tanah tersebut ditinjau dari berbagai klasifikasi, yaitu :

  1. Klasifikasi menurut USDA (United States Dept. of Agriculture)
  2. Versi unit lahan menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT)
  3. Versi unit lahan menurut Repport

Berdasarkan   klasifikasi   USDA,   jenis   tanah   yang   terdapat   di Kabupaten Tanggamus meliputi jenis-jenis tanah alluvial, latosol, andosol, regosol dan hidromorf kelabu. Lebih rincinya, jenis batuan dalam asosiainya dengan jenis tanah di Kabupaten Tanggamus dalam kaitannya dengan bentuk fisiografi wilayah adalah sebagai berikut :

  1. Satuan tanah latosol yang berasal dari bahan induk kompleks tufa batuan gunung api intermedier dan basis dengan fisiografi pegunungan lipatan.
  2. Satuan andosol coklat kekuningan yang berasal dari bahan induk kompleks tufa intermedier dan basis pada fisiografi pegunungan patahan.
  3. Satuan tanah  andosol  coklat,  kompleks  tufa  dan  batuan  tufa intermedier.
  4. Satuan tanah podsolik merah kuning yang berasal dari bahan induk kompleks sedimen tufa dengan batuan metamorf pada fisiografi dataran.
  5. Asosiasi podsoli  merah  kekuningan  dan litosol yang berasal dari kompleks batuan   kukuh   plutonik   masam  dan  metamorf  pada fisiografi pegunungan
  6. Satuan tanah  alluvial  hidromorf  yang  berasal  dari  bahan  induk endapan marin dengan fisiografi dataran.

    iii)  Hidrologi

Kondisi hidrologi di Kabupaten Tanggamus dipengaruhi oleh beberapa sungai baik sungai besar maupun sungai kecil. Keberadaan sungai dan anak sungai yang melintasi wilayah Kabupaten Tanggamus sangat mempengaruhi kondisi perairan yang menjadi sumber air bagi penduduk di wilayah Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya.

Sungai yang menjadi perhatian di Kabupaten Tanggamus karena manfaatnya yang sangat besar bagi aktivitas penduduk adalah sungai Way Sekampung termasuk daerah-daerah aliran sungainya. Sungai dan anak sungai  ini  merupakan  sumber  air  untuk  Bendungan  Batu  Tegi yang terletak di Pekon Way Harong, Kecamatan Air Naningan yang dibangun pada tahun 2002, dengan luas genangan 25 Km2, yang diperuntukkan sebagai pembangkit tenaga listrik, air baku, pariwisata, pengedalian banjir dan pengembangan perikanan air tawar.  Pola aliran   sungai Way Sekampung menganut pola aliran dendritik yang mengalir melintasi beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Panggung, Air Naningan, Talang Padang, Pugung, dan  Bulok. Luas keseluruhan Daerah  Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung adalah 479.252 Km2.

  1. Klimatologi

Kabupaten Tanggamus merupakan kabupaten dengan iklim tropis. Sementara itu, dilihat dari jumlah curah hujannya, pada bulan November tahun 2021 memiliki rata-rata curah hujan tertinggi di Kabupaten Tanggamus yaitu sebesar 379,6 mm3. Secara lebih lengkap, jumlah curah hujan menurut bulan di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tabel 3. Pengamatan Unsur Iklim Menurut Bulan di Stasiun Klimatologi Pesawaran, 2021

Bulan Jumlah Curah Hujan (mm) Jumlah Hari Hujan (hari) Penyinaran Matahari  (%)
Januari 240,8 23 21,8
Februari 311,6 20 34,5
Maret 101,0 21 47,7
April 113,8 12 49,6
Mei 104,0 13 52,0
Juni 59,2 14 39,8
Juli 39,1 4 50,4
Agustus 182,5 12 48,7
September 154,3 15 43,0
Oktober 182,6 10 43,5
November 379,6 17 27,6
Desember 198,0 18 39,7

Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

  1. Kerawanan Bencana

Kondisi fisik wilayah Kabupaten Tanggamus yang sangat variatif, dimana mempunyai kemiringan yang bervariasi mulai dari 0 hingga > 40 %, banyaknya daerah aliran sungai, terdapatnya beberapa gunung serta terletak di dekat patahan semangka, menyebabkan  wilayah  Kabupaten Tanggamus cenderung mempunyai potensi daerah rawan bencana yang cukup besar. Dibawah ini adalah jenis bencana alam dan perkiraan daerah yang terkena dampak bencana tersebut.

 

Tabel 4. Daerah Potensi Rawan Bencana di Kabupaten Tanggamus

No Jenis Bencana Lokasi
1. Longsor Kecamatan yang memiliki daerah rawan bencana   longsor/pergerakan tanah antara lain adalah   Kecamatan Pematang Sawa, Semaka, Bandar Negeri Semuong, Kota Agung Timur, Limau, Cukuh Balak, Ulu Belu, Kelumbayan, Kelumbayan Barat, Bulok, dan Air Naningan, Gisting
2. Banjir Daerah potensial banjir di Kabupaten Tanggamus antara lain adalah Kecamatan Pematang Sawa,  Semaka,  Bandar Negeri Semuong, Wonosobo, Kota   Agung Barat, Kota Agung, Pugung, Talang Padang, Gisting, Cukuh Balak, dan Limau, untuk Tahun 2019 yang sering terjadi banjir yaitu di daerah Semaka dan Bandar Negeri Semuong yang mengakibatkan putusnya jalan Nasional.
3. Gempa Bumi Kabupaten Tanggamus juga tidak luput dari kerawanan gempa bumi karena dilewati oleh patahan/sesar Semangko. Beberapa kecamatan yang terlewati oleh sesar ini adalah Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Semaka, Wonosobo, Pematang  Sawa, dan Kota Agung Barat. Daerah lain yang juga potensial akan terjadinya bencana gempa bumi adalah Ulu Belu, Kota Agung Barat, Kota Agung, Limau, Cukuh Balak, Kelumbayan Barat, dan Kelumbayan.
4. Tsunami Beberapa daerah yang rawan terjadi bencana tsunami adalah Kecamatan Pematang Sawa, Semaka,   Wonosobo, Kota Agung Barat, Kota Agung, Kota Agung Timur, Limau, Cukuh Balak, dan Kelumbayan.
5. Kebakaran Untuk bencana kebarakaran bangunan/rumah, daerah yang paling potensial terjadi kebakaran adalah daerah  dengan  kepadatan  penduduk  tinggi  dengan  pola tata letak bangunan yang rapat. Hal ini bisa terlihat di kecamatan perkotaan seperti Talang Padang, Kota Agung, dan Gisting, juga di kecamatan-kecamatan padat seperti Wonosobo dan Kota Agung Barat.
6. Gelombang Tinggi Air Laut Kawasan rawan bencana gelombang pasang laut terjadi di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Tanggamus. Hanya beberapa kecamatan yang mengalami gelombang pasang laut, yaitu Kecamatan  Kelumbayan, Cukuh Balak, Kota Agung Timur,       Kota Agung, Kota Agung Barat, Wonosobo,  Semaka serta Pematang Sawa.

Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

 

Gambar 2. Peta Bahaya Bencana Longsor di Kabupaten Tanggamus
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

Gambar 3. Peta Bahaya Bencana Banjir di Kabupaten Tanggamus
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

Gambar 4. Peta Bahaya Gempa Bumi di Kabupaten Tanggamus
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

Gambar 5. Peta Bahaya Bencana Tsunami di Kabupaten Tanggamus
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanggamus, 2018

 

 Demografi

  1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Tanggamus pada tahun 2019 adalah sebanyak 648.956 jiwa. Kecamatan Pugung dalam hal ini merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak. Secara lebih rinci, jumlah penduduk di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Jumlah Penduduk di Kabupaten Tanggamus Tahun 2019

No Kecamatan Luas Wilayah

( Hektar )

Jumlah Penduduk
1 Wonosobo 20.963 42.422
2 Semaka 17.090 40.165
3 Bandar Negeri Semuong 9.812 17.216
4 Kota Agung 7.693 47.946
5 Pematang Sawa 18.529 18.008
6 Kota Agung Barat 10.130 23.133
7 Kota Agung Timur 7.333 21.960
8 Pulau Panggung 43.721 40.534
9 Ulu Belu 32.308 43.458
10 Air Naningan 18.635 31.648
11 Talang Padang 4.513 54.238
12 Sumberejo 5.677 36.331
13 Gisting 3.253 43.405
14 Gunung Alip 2.568 22.610
15 Pugung 23.240 66.294
16 Bulok 5.168 25.253
17 Cukuh Balak 13.376 25.179
18 Kelumbayan 12.109 12.697
19 Limau 24.061 21.888
20 Kelumbayan Barat 5.367 14.571
Jumlah 285.546 648.956

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2020

  1. Jumlah Rumah Tangga

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Tanggamus terus mengalami kenaikan selama tahun 2018. Kecamatan Pugung dalam hal ini merupakan kecamatan dengan jumlah rumah tangga terbanyak yaitu 11.154 rumah tangga (tahun 2018). Sementara itu, Kecamatan Kelumbayan merupakan kecamatan dengan jumlah rumah tangga tersedikit yaitu 2.262 rumah tangga (tahun 2018). Secara lebih detail, persebaran jumlah rumah tangga di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6. Jumlah Rumah Tangga di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018

No Kecamatan Jumlah KK
1 Wonosobo 7.236
2 Semaka 7.356
3 Bandar Negeri Semuong 4.051
4 Kota Agung 8.754
5 Pematang Sawa 3.475
6 Kota Agung Barat 4.978
7 Kota Agung Timur 3.994
8 Pulau Panggung 7.235
9 Ulu Belu 9.273
10 Air Naningan 6.303
11 Talang Padang 9.267
12 Sumberejo 6.832
13 Gisting 8.115
14 Gunung Alip 3.752
15 Pugung 11.154
16 Bulok 4.375
17 Cukuh Balak 4.776
18 Kelumbayan 2.262
19 Limau 3.674
20 Kelumbayan Barat 2.986
Jumlah 119.847

Sumber : Kabupaten Tanggamus Dalam Angka, 2022

  • Piramida Penduduk

Penduduk di Kabupaten Tanggamus didominasi oleh penduduk usia  (5-9 tahun) yaitu sebanyak 55.977. Adapun jika dilihat dari bentuk piramida penduduknya, Kabupaten Tanggamus memiliki piramida penduduk ekspansif yang berarti sebagian besar penduduknya adalah usia muda. Karenanya, dibutuhkan lapangan pekerjaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jumlah angkatan kerja yang ada.

 

 

Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Tanggamus, 2021

Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah
Laki – laki Perempuan
0-4 28.323 26.953 55.276
5-9 28.738 27.239 55.977
10-14 26.587 25.419 52.006
15-19 27.404 25.462 52.866
20-24 28.408 26.285 54.687
25-29 27.628 24.985 52.613
30-34 28.689 25.568 54.257
35-39 25.526 22.922 48.448
40-44 24.366 22.141 46.507
45-49 20.916 19.663 40.579
50-54 18.570 17.985 36.555
55-59 15.636 14.723 30.359
60-64 12.562 11.741 24.303
65-69 9.138 8.480 17.618
70-74 5.916 5.854 11.770
75+ 5.741 6.245 11.986

Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

 

Gambar 6.Piramida Penduduk di Kabupaten Tanggamus Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022 (diolah)

 

  1. Proyeksi Penduduk

Berdasarkan proyeksi penduduk yang telah dilakukan, pada tahun 2025 penduduk Kabupaten  Tanggamus meningkat menjadi 630.873 jiwa. Proyeksi tersebut menggunakan data jumlah penduduk dari tahun 2010 hingga 2021. Sehingga didapatkan hasil proyeksi seperti pada tabel berikut:

Tabel 8. Proyeksi Penduduk di Kabupaten Tanggamus

Kabupaten

Tanggamus

Proyeksi Penduduk
Laki -laki Perempuan L + P
2023 2024 2025 2023 2024 2025 2023 2024 2025
321.970 324.418 326.785 298.796 301.475 304.088 620.766 625.893 630.873

Sumber : Kabupaten Tanggamus dalam Angka, 2022

 

 

  1. Kemiskinan

Selama 7 tahun terakhir yaitu tahun 2015-2021 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tanggamus mengalami fluktuasi namun lebih cenderung menurun, dimana pada tahun 2021 jumlahnya mencapai 718.900 jiwa. Sementara itu, garis kemiskinan cenderung mengalami kenaikan dimana pada tahun 2021 angkanya mencapai 410.510 rupiah/kapita/bulan. Secara lebih jelas, perkembangan jumlah penduduk miskin dan garis kemiskinan Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 7. Grafik Jumlah Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan di Kabupaten Tanggamus

2021
2020
2019
2018
2017
2016
2015
Garis Kemiskin
Jumlah Penduduk Miskin

 

 

Sumber : Kabupaten Tanggamus dalam Angka, 2022

Sama halnya dengan perkembangan jumlah penduduk miskin, indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan Kabupaten Tanggamus juga mengalami perkembangan fluktuatif selama 8 tahun terakhir. Namun demikian secara keseluruhan angkanya menurun yaitu untuk indeks kedalaman kemiskinan dari 2,39 (2014) menjadi 2,13 (2021) dan indeks keparahan kemiskinan dari 0,6 (2013) menjadi 0,45 (2021). Secara lebih lengkap perkembangan indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan Kabupaten Tamanggus dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

2021
2020
2019
2018
2017
2016
2014
2015
Indeks Kedalaman kemiskinan
Indeks Keparahan kemiskinan

 

 

Gambar 8. Indeks Keparahan dan Kedalaman Kemiskinan di Kabupaten Tanggamus
Sumber : Kabupaten Tanggamus dalam Angka, 2022

 

Perumahan dan Kawasan Permukiman

  1. Status Penguasaan Bangunan

Status penguasaan bangunan merupakan salah satu indikator kesejahteraan penduduk bagian perumahan. Semakin banyak penduduk yang mempunyai rumah sendiri maka semakin banyak juga masyarakat yang tergolong mapan dan sejahtera terutama memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun selama tahun terakhir persentase tertinggi status penguasaan bangunan di Kabupaten Tanggamus dalam hal ini adalah milik sendiri dimana pada tahun 2019 persentasenya adalah 90,34%. Secara lebih detail, persentase status penguasaan bangunan di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 9. Presentase Status Penggunaan Bangunan di Kabupaten Tanggamus

Status Penguasaan Bangunan Presentase ( % ) 2019
Milik Sendiri 90,34
Bukan Milik Sendiri 9,66

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus , 2021

  1. Luas Lantai Bangunan Setiap Rumah

Luas lantai bangunan merupakan indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan penduduk. Idealnya, sebuah keluarga harus menempati rumah dengan luas lantai minimal 8 kali jumlah anggota keluarganya. Adapun Kabupaten Tanggamus pada tahun 2021 dalam hal ini didominasi oleh bangunan dengan luas lantai 50-99 m2. Namun demikian sampai dengan tahun tersebut masih terdapat 0,21 % bangunan di Kabupaten Tanggamus yang memiliki luas lantai 19 m2. Secara lebih rinci, perkembangan persentase jumlah bangunan berdasarkan luas lantai di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 10. Presentase Rumah Tangga Menurut Kabupaten / Kota, dan Luas Tempat Tinggal di Kabupaten Tanggamus 2021

Kabupaten

Tanggamus

Luas Lantai ( m2 )
< 19 20-49 50-99 100-149 150+
0,21 17,57 66,17 12,37 3,68

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus , 2021

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Luas Perkapita

 Luas lantai bangunan merupakan indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan penduduk. Idealnya, sebuah keluarga harus menempati rumah dengan luas lantai minimal 8 kali jumlah anggota keluarganya. Dapat dikatakan bahwa kondisi perumahan masyarakat yang ada di Kabupaten Tanggamus sudah cukup baik bila dilihat dari luas lantai perkapita. Hal ini terlihat dari sebagian data yang ada, rata-rata luas lantai perkapita sudah sesuai dengan standar kesehatan WHO. Persentase rumah tangga yang luas lantainya kurang dari 7,2 m2 perkapita pada tahun 2018, hanya 1,80 persen, kemudian meningkat di tahun 2019 menjadi 3,74 persen, dan menurun kembali tahun 2020 menjadi 0,27 persen. Secara lebih rinci, perkembangan persentase jumlah bangunan berdasarkan luas lantai di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tabel 11. Presentase Rumah Tangga Menurut Kelompok Luas Lantai Perkapita Kabupaten Tanggamus Tahun 2018 -2020

Tahun Luas Lantai Perkapita ( m2)
< 7,2 >7,2
2018 1,80 98,20
2019 3,74 96,26
2020 0,27 99,73

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus , Susenas 2018-2020

  1. Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Atap Terluas

Pada tabel di bawah jika dilihat dari jenis atapnya, maka kondisi sosial ekonomi rumah tangga di Kabupaten Tanggamus dinilai sudah cukup baik karena sebagian besar rumah tangga yang ada menggunakan atap jenis beton, genteng, sirap, seng, dan asbes. Besarnya persentase rumah tangga yang menggunakan jenis atap yang dianggap sesuai dengan standar kesehatan (atap berupa beton, genteng, sirap, seng, dan asbes) pada tahun 2018 adalah sebesar 99,92 persen dan pada tahun 2019 dan 2020 adalah sebesar 99,84 persen atau menurun sebesar 0,08 persen. Bila dilihat lagi secara keseluruhan, pada tabel tersebut juga terlihat bahwa pada tahun 2018 sampai 2020 sebagian besar penduduk di Kabupaten Tanggamus sudah menggunakan atap jenis genteng

Tabel 12. Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Atap Terluas di                              Kabupaten Tanggamus 2021

Tahun Beton Genteng Seng Asbes Lainnya
2018 78,91 16,11 4,90 0,08
2019 77,17 14,40 8,27 0,16
2020 0,51 81,51 5,34 12,48 0,16

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, Susenas 2018-2020

 

  1. Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Dinding Terluas

Hasil Susenas 2018 sampai 2020 pada tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Tanggamus memiliki kondisi sosial ekonomi yang sudah cukup baik jika dilihat berdasarkan kondisi jenis dinding rumah. Persentase rumah tangga dengan jenis dinding tembok terus meningkat setiap tahunnya, yaitu pada tahun 2018 sebesar 62,03 persen menjadi sebesar 64,99 persen pada tahun 2019 dan kembali meningkat pada tahun 2020 menjadi 68,19 persen.

Tabel 13. Presentase Rumah Tangga Menurut Jenis Dinding Terluas di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018 – 2020

Tahun Tembok Kayu Bambu Lainnya
2018 62,03 30,54 7,16 0,27
2019 64,99 26,49 7,01 1,51
2020 68,19 28,26 3,55 0,00

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, Susenas 2018 – 2020

  1. Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Lantai Terluas

Indikator lain yang digunakan untuk melihat kondisi perumahan selain luas lantai perkapita adalah jenis lantai terluas. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa persentase rumah tangga di Kabupaten Tanggamus yang jenis lantainya semen pada tahun 2018 sudah relatif tinggi, yaitu sebesar 61,96 persen dan sisanya sebesar 13,26 persen merupakan rumah tangga dengan jenis lantai rumahnya adalah tanah. Selanjutnya, pada tahun 2019 kondisi ini membaik dengan cukup signifikan, persentase rumah tangga dengan jenis lantai terluasnya tanah menurun menjadi hanya 8,10 persen. Namun pada tahun 2020, persentase rumah tangga dengan jenis lantai terluasnya tanah meningkat menjadi 10,00 persen. Pada tabel tersebut juga terlihat bahwa penggunaan marmer/keramik/granit dan semen sebagai lantai rumah tahun 2019 meningkat, namun menurun di tahun 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat Kabupaten Tanggamus mengalami penurunan di tahun 2020 dalam hal pemenuhan kebutuhan ”papan” yaitu pemenuhan peningkatan kualitas perumahan

Tabel 14. Presentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Terluas di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2020

Tahun Marmer / Keramik / granit Tegel / teraso Semen Kaya Lainnya
2018 21,81 0,86 61,96 2,11 13,26
2019 27,40 1,01 61,70 1,79 8,10
2020 26,75 0,36 60,19 2,70 10,00

 

  • Backlog Perumahan

Faktor-faktor yang mempengaruhi angka backlog perumahan adalah jumlah Rumah Tangga (RT) yang mencerminkan jumlah kebutuhan rumah oleh rakyat dan jumlah rumah yang dapat disediakan/dibangun. Jumlah rumah tangga setiap tahun akan mengalami pertumbuhan, dengan data yang tersedia pertumbuhan rumah tangga dapat diproyeksikan untuk beberapa tahun ke depan. Lain halnya dengan jumlah rumah yang tersedia sangat dipengaruhi dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pembangunan, akan menentukan banyaknya rumah yang dapat dibangun baik oleh pemerintah maupun sektor swasta   (pengembang). Ketika intervensi pemerintah tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan perumahan  secara  langsung,  membangun  rumah  tidak  dapat mengimbangi laju pertumbuhan rumah tangga, maka angka backlog perumahan semakin bertambah tiap tahunnya.

Backlog hunian bisa disebabkan terjadi melalui beberapa hal, penyediaan  rumah  yang  kurang  memenuhi  kebutuhan  Kepala  Keluarga (KK), affordabilitas/kemampuan membayar rumah yang rendah, harga jual hunian  yang  terlalu  tinggi  dan  kurang  menjangkau  kebutuhan  rumah untuk MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).

 

 

 

Tabel 15. Analisis Backlog Rumah di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038

Kecamatan Backlog
2018 2023 2033
Wonosobo 1.206 4.457 4.790
Semaka 1.226 71 76
Bandar Negeri Semuong 675 1.334 1.434
Kota Agung 1.459 5.319 5.715
Pematang Sawa 579 169 182
Kota Agung Barat 830
Kota Agung Timur 666 (4.634)
Pulau Panggung 1.206 2.290 2.460
Ulu Belu 1.546 1.791 1.925
Air Naningan 1.051 704 757
Talang Padang 1.544 2.892 3.107
Sumberejo 1.139 4.280 4.599
Gisting 1.353
Gunung Alip 625 123 132
Pugung 1.859 8.285 8.903
Bulok 729 2.875 3.090
Cukuh Balak 796 1.980 2.128
Kelumbayan 377
Limau 612
Kelumbayan Barat 498
Total 19.974 36.569 34.665

Sumber : Hasil Analisis, 2018

  • Rumah Tidak Layak Huni

Tingkat kemiskinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Semakin tingginya tingkat kemiskinan maka semakin besar pula dorongan masyarakat untuk mencari kehidupan  yang  lebih  layak  di  tempat  lain  dengan  cara  bermigrasi  ke wilayah  lainnya.  Akan  tetapi,  tingginya  persaingan  yang  ada  diantara sesama pendatang menyebabkan ada beberapa pendatang yang tidak bisa mendapatkan tempat hidup yang layak atau yang biasa disebut dengan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pertambahan jumlah pendatang ini juga mengakibatkan pemerintah yang merupakan salah satu penyedia tempat tinggal bagi masyarakat tidak mampu menyediakan rumah ke seluruh pendatang yang ada dan mengakibatkan jumlah RTLH yang ada semakin banyak. Berikut adalah jumlah dan persebaran RTLH yang ada di wilayah Kabupaten Tanggamus.

Tabel 16. Jumlah RTLH di Kabupaten Tanggamus

No Kecamatan Jumlah RTLH
1 Wonosobo 573
2 Semaka 866
3 Bandar Negeri Semuong 240
4 Kota Agung 462
5 Pematang Sawa 858
6 Kota Agung Barat 850
7 Kota Agung Timur 590
8 Pulau Panggung 635
9 Ulu Belu 372
10 Air Naningan 333
11 Talang Padang 824
12 Sumberejo 889
13 Gisting 631
14 Gunung Alip 575
15 Pugung 1510
16 Bulok 699
17 Cukuh Balak 645
18 Kelumbayan 298
19 Limau 246
20 Kelumbayan Barat 627
Jumlah 12.723

Sumber : Aplikasi E-RTLH, 2019

Terlihat dari tabel Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang ada di Kabupaten Tanggamus paling banyak berada di Kecamatan Pugung yaitu 1510 unit yang tersebar di 27 Pekon sedangkan jumlah RTLH yang paling sedikit berada di Kecamatan Bandar Negeri Semuong sebanyak 240 unit yang tersebar di 10 Pekon.

  1. Kawasan Permukiman Kumuh

Dari hasil kajian analisis lapangan, maka didapat poin-poin yang dianggap menjadi isu strategis kawasan kumuh, poin-poin tersebut adalah :

  1. Terdapat kawasan permukiman kumuh yang cukup luas di kawasan perkotaan Tanggamus;
  2. Mempunyai karakter bangunan    kawasan    khas    yang    dapat dikembangkan sebagai identitas daerah;
  3. Rata-rata kawasan merupakan kawasan cepat tumbuh terutama pada kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan sedang-padat;
  4. Banjir terjadi di  permukiman  kawasan  dekat  aliran  sungai  besar, adanya masalah   banjir   sangat   berpotensi   dalam   menghambat perkembangan kawasan di pedesaan dekat aliran sungai;
  5. Kawasan permukiman berkembang  di  sekitar  pusat  perkotaan  dan perekonomian tiap kecamatan sehingga menjadi kawasan yang cepat tumbuh dan berkembang;
  6. Pola hidup masyarakat yang kurang sadar akan lingkungan permukiman, hal  ini  dapat  terlihat dengan banyaknya sampah menyumbat drainase ataupun bangunan baru masyarakat yang berdiri di atas drainase hingga mengganggu aliran drainase;
  7. Masih banyaknya warga yang memakai sumur, sumur tidak fleksibel dan konsisten penyediaan air sehingga perlu strategi dalam peningkatan jaringan air bersih;
  8. Terjadinya kurang bersih air dibeberapa kawasan permukiman dan di beberapa daerah memiliki sumber mata air yang sangat potensial;
  9. Berdekatan dengan  pusat  perekonomian  (pasar)  membuat  lokasi permukiman rawan akan tumpukan sampah;
  10. Pola hidup   masyarakat   yang   kurang   sadar   akan   lingkungan permukiman, hal  ini  dapat  terlihat  dengan  banyaknya  sampah menyumbat drainase ataupun bangunan baru masyarakat yang berdiri di atas drainase hingga menggangu aliran drainase;
  11. Pola hidup masyarakat yang membuang sampah di lahan terbuka dapat menjadi suatu ancaman terhadap lingkungan. Masyarakat masih bertindak membuang sampah di ruang terbuka dan terdapat juga yang masih membakarnya, asap hasil pembakaran   dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan lingkungan;

 

Tabel 17. Penetapan Kawasan Permukiman Kumuh Tahun 2014

No Lokasi Luas Kawasan

( Ha )

Kecamatan Kelurahan
1 Gisting Purwodadi 17.229
2 Kota Agung Baros 12.379
Kuripan 1.631
Pasar Madang 34.366
3 Talang Padang Talang Padang 35.158
Suka Negeri Jaya 6.018
Sinar Banten 41.063
Sinar Semendo 19.910
Total 167.754

Sumber : SK Bupati Tanggamus, 2014

  1. Kampung Adat

Kabupaten Tanggamus memiliki empat kampung adat yaitu Kampung Baru Waylalan, Desa Wisata Putih Doh, Desa Wisata Sailing Sumbermulyo, dan Desa Wisata Teluk Kiluan. Berbagai daya tarik wisata ditawarkan oleh masing-masing kampung adat mulai dari wisata alam hingga budaya.

Tabel 18. Persebaran Rumah dan Kampung Adat dengan Potensi Wisata di Kabupaten Tanggamus Tahun 2022

Nama Objek Lokasi Daya Tarik Wisata
Kampung Baru Waylalan Kampung baru, Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Lampung Wisata alam pincak khakot , wisata budaya seni tari dan adat kampung baru waylalaan , wisata seni budaya daerah Lampung, wisata budaya tari kecandang, wisata budaya takhi batin, wisata alam takhi kipas
Desa Wisata Putih Doh Putih Doh, Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung Air terjun, pantai karang putih, seni dan budaya daerah setempat.
Desa Wisata Sailing Sumbermulyo Sumbermulyo, Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung Potensi alam seperti agrowisata buah (jambu kristal, salak, jeruk dan durian), kerajinan tenun dan seni budaya pencak silat
Desa Wisata Teluk Kiluan Kiluan Negeri, Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung Kegiatan wisata Dolphin tour, treking ke Laguna gayau, treking ke talang mulian, jelajah Pulau Kelapa, snorkeling, wisata pantai Cukuh Pandan, memancing dan diving

Sumber : Desa Wisata, 2021

Prasarana dan Sarana Umum

  1. Prasarana Jalan

Berdasarkan Kabupaten Tanggamus dalam angka Aceh Tenggara pada tahun 2021 panjang luas ruas jalan di Kabupaten Tanggamus adalah 1.163,43 km. Adapun jika dilihat berdasarkan jenis permukaannya, pada tahun 2021 sebagian besar jalan di Kabupaten Tanggamus adalah berupa jalan aspal dengan persentase yaitu dengan panjang 451,93 km. Sementara itu, berdasarkan kondisi jalannya Kabupaten Tanggamus didominasi oleh jalan dengan kondisi baik. Secara lebih jelas, jenis permukaan dan kondisi jalan di Kabupaten Tanggamus tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 9. Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan di Kanupaten Tanggamus ( km ), 2021

 

Tabel 19. Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan Jalan di Kabupaten Tanggamus (km) Tahun 2019-2021

Jenis Permukaan Jalan 2019 2020 2021
Aspal 675,11 650,68 451,93
Kerikil 417,18
Tanah 49,94
Lainnya 664,26 688,69 244,39
Jumlah 1.339,37 1.339,37 1.163,43

Sumber : Kabupaten Tanggamus dalam Angka, 2022

  1. Prasarana Drainase

Penataan dan penyediaan drainase membutuhkan pendekatan sistem drainase berkelanjutan dengan memadukan konsep pengaliran, retensi, dan detensi. Sehingga dari latar belakang yang ada, maka perlu disusun Master Plan (Rencana Induk) Drainase dengan DAS/DTA sebagai tinjauan kawasan. Tujuan Penyusunan Master Plan Drainase Kabupaten Tanggamus Tahun 2021 adalah :

  • Inventarisasi jaringan drainase eksisting, permasalahan lingkungan, serta kajian pemecahan masalah;
  • Memberikan acuan operasional pembangunan tata letak sistem jaringan drainase dengan mempertimbangkan sistem drainase yang telah ada; dan
  • Indikasi program pembangunan sistem drainase yang berkelanjutan (ecodrain).

 

Sedangkan sasarannya adalah diperolehnya hasil kajian lingkungan, permasalahan drainase kawasan, pengembangan model, rekomendasi desain teknis jaringan sistem drainase dan pengelolaan drainase kawasan di Kabupaten Tanggamus, serta tersusunnya rencana induk Master Plan Drainase yang berkelanjutan di Kabupaten Tanggamus.

  • Prasarana Persampahan

Berdasarkan hasil pengukuran jumlah timbulan sampah, diketahui bahwa rata-rata timbulan sampah sebanyak 20,4 kg/hari, berasal dari setiap pedagang rumah toko (ruko) sebanyak 6,1 kg/hari, pedagang kios sebanyak 5,7 kg/hari, dan pedagang los sebanyak 8,6 kg/hari. Berdasarkan data tersebut, maka total timbulan sampah untuk populasi sebanyak 5681,2 kg/hari

Tabel 20. Rata-Rata Timbulan Sampah Perhari

No Jenis Tempat Berdagang Jumlah Populasi Rata-rata Timbulan Sampah ( Kg ) Total Timbulan Sampah ( Kg)
1 Ruko 23 6,1 140,3
2 Kios 527 5,7 3.003,9
3 Los 295 8,6 2537
Jumlah 845 20,4 5.681,2

 

  1. Prasarana Telekomunikasi

Sistem jaringan telekomunikasi di Kabupaten Tanggamus terdiri dari jaringan kabel dan jaringan nirkabel. Adapun jaringan nirkabel berupa sistem jaringan seluler atau tanpa kabel adalah berupa menara BTS yang tersebar secara di setiap kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Berdasarkan perkembangannya selama tahun terakhir, jumlah menara telekomunikasi (BTS) di Kabupaten Tanggamus terus mengalami kenaikan. Sementara itu, dalam hal ini Kecamatan Kota Agung merupakan kecamatan dengan sebaran menara BTS terbanyak dibanding kecamatan lain di Kabupaten Tanggamus .

Tabel 21. Jumlah Menara Telekomunikasi Seluler ( BTS ) Menurut Kecamatan di Kabupaten Tanggamus, 2021

No Kecamatan Jumlah
1 Wonosobo 8
2 Semaka 7
3 Bandar Negeri Semuong 2
4 Kota Agung 14
5 Pematang Sawa 1
6 Kota Agung Barat 2
7 Kota Agung Timur 5
8 Pulau Panggung 6
9 Ulu Belu 6
10 Air Naningan 1
11 Talang Padang 7
12 Sumberejo 7
13 Gisting 8
14 Gunung Alip 6
15 Pugung 7
16 Bulok 3
17 Cukuh Balak 2
18 Kelumbayan 1
19 Limau 0
20 Kelumbayan Barat 3

Sumber : Dinas Komunikasi dan Informatika Tanggamus

  1. Jaringan Listrik dan Penerangan

Pada tahun 2018, terlihat bahwa persentase rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai sumber penerangan utama adalah sebesar 99,57 persen (baik listrik PLN maupun listrik Non PLN) dan pada tahun 2019 meningkat menjadi sebesar 99,70 persen atau naik sebesar 0,13 persen dari tahun 2018. Kemudian pada tahun 2020 meningkat kembali menjadi 99,95 persen. Dari tahun ke tahun, penggunaan listrik sebagai sumber penerangan di wilayah Kabupaten Tanggamus semakin besar. Meski demikian, masih ada masyarakat yang masih menggunakan pelita (bukan listrik) sebagai sumber penerangan di malam hari. Ini dimungkinkan karena sebagian besar dari masyarakat tersebut masih berada di wilayah-wilayah yang cukup jauh, terpencil, dan tersebar

Tabel 22. Presentase Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018 – 2020

Tahun Listrik PLN Listrik non PLN Bukan Listrik
2018 93,27 6,31 0,43
2019 95,64 4,06 0,30
2020 97,84 2,12 0,05

Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus , Susenas 2018-2020

 

 

  1. Jaringan Air Bersih dan Air Minum

Sumber hidup utama kehidupan makhluk hidup adalah air. Dalam semua aktivitasnya, manusia membutuhkan air baik untuk minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. Dewasa ini, masyarakat semakin sadar akan arti pentingnya penyediaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari khususnya untuk pemenuhan kebutuhan air minum.

Jenis air minum yang dianggap higienis atau air bersih yang aman untuk dikonsumsi dan sesuai dengan standar kesehatan adalah jenis air kemasan, air ledeng, sumur terlindung, dan mata air terlindung. Pada tahun 2020, persentase rumah tangga yang menggunakan air yang bersumber dari sumur terlindung sebesar 34,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 34 persen penduduk Kabupaten Tanggamus pada tahun 2016 mengkonsumsi air minum berasal dari sumur/mata air terlindung. Walaupun begitu, masih ada sebanyak 16,72 persen penduduk Kabupaten Tanggamus yang mengkonsumsi air minum yang berasal dari sumur/mata air tidak terlindung. Hal ini diindikasikan karena Kabupaten Tanggamus merupakan daerah yang masih asri dan berkontur pegunungan sehingga masih banyak tersedia mata air jernih yang dapat dikonsumsi sebagai air minum. Data persentase rumah tangga yang mengkonsumsi air minum menurut sumbernya tersebut digambarkan pada grafik berikut.

 

Gambar 10. Presentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum di Kabupaten Tanggamus Tahun 2020
Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, Susenas 2020

 

  • Sarana Sanitasi

Berdasarkan   RTRW   Kabupaten   Tanggamus   Tahun   2011-2031, terdapat beberapa rencana diantaranya :

  1. Pengolahan air   limbah   industri   dengan   menggunakan   sistem pengolahan biologis;
  2. Pembangunan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL);
  3. Pengelolaan limbah industri kecil dan rumah tangga yang dikembangkan melalui pengelolaan hasil limbah yang berupa biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif;
  4. Pengembangan prasarana pengolahan limbah industri, limbah medis, dan bahan beracun berbahaya (B3) secara mandiri pada fasilitas tertentu maupun secara terpadu untuk pelayanan skala kabupaten;
  5. Pengembangan instalasi pengelolaan limbah B3 di kawasan peruntukan industri; pemenuhan fasilitas septic tank pada masing-masing Kepala Keluarga (KK) pada wilayah perkotaan dan perdesaan;
  6. Pengembangan jamban komunal pada kawasan permukiman padat

Tabel 23. Potensi dan Permasalahan Sanitasi

Potensi Masalah
·         Adanya potensi lahan yang luas apabila ada rencana pembangunan IPAL komunal

·         Adanya rencana dan program dari pemerintah untuk memperbaiki sistem sanitasi di Kabupaten Tanggamus

·         Sistem sanitasi di Kabupaten Tanggamus masih sangat tradisional

·         Sarana dan prasarana sanitasi yang terbatas dapat berdampak bagi keberlanjutan lingkungan yang sehat

·         Pola hidup masyarakat yangmasih BAB sembarangan dapat menurunkan kualitas lingkungan sekitar akibat limbah yang tidak dikelola dengan baik

Sumber : Hasil Analisis, 2018

  • Sarana Peribadatan

Mayoritas penduduk di Kabupaten Tanggamus beragama Islam (607.165 jiwa). Jumlah tempat peribadatan di Kabupaten Tanggamus didominasi oleh masjid dan mushola, dengan jumlah masjid sebanyak 909 dan mushola sebanyak 893.

Tabel 24. Jumlah Tempat Peribadatan Menurut Kecamatan di Kabupaten Tanggamus, 2021

No Kecamatan Masjid Mushola Gereja protestan Gereja Katolik Pura Vihara
1 Wonosobo 45 57 2 2 3
2 Semaka 56 48 1
3 Bandar Negeri Semuong 32 27
4 Kota Agung 54 47 4 2 1
5 Pematang Sawa 32 39
6 Kota Agung Barat 33 22 1 1 1
7 Kota Agung Timur 30 50
8 Pulau Panggung 68 74
9 Ulu Belu 81 14
10 Air Naningan 77 59 1 2
11 Talang Padang 64 40
12 Sumberejo 48 82 2
13 Gisting 43 59 4 1
14 Gunung Alip 28 32
15 Pugung 58 63 2
16 Bulok 39 44
17 Cukuh Balak 43 48 1
18 Kelumbayan 31 23 4
19 Limau 34 36
20 Kelumbayan Barat 13 29
Jumlah 909 893 8 16 10 1

Sumber : Kementrian Agama Tanggamus

  1. Sarana Pendidikan

Kabupaten Tanggamus memiliki ketersediaan fasilitas pendidikan mulai dari SD/MI hingga SMA/MA sederajat. Adapun secara lebih rinci, jumlah fasilitas dan persentasenya di Kabupaten Tanggamus dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 25. Jumlah Sekolah TK di Kabupaten Tanggamus, 2020/2021 dan 2021/2022

No Kecamatan Sekolah
Negeri Swasta
2020/2021 2021/2022 2020/2021 2021/2022
1 Wonosobo 4 4
2 Semaka 13 13
3 BandarNegeri Semuong 4 4
4 Kota Agung 9 9
5 Pematang Sawa
6 Kota Agung Barat 2 2 2 2
7 Kota Agung Timur 1 1 1 1
8 Pulau Panggung 8 8
9 Ulu Belu 16 16
10 Air Naningan 10 10
11 Talang Padang 11 11
12 Sumberejo 1 1 9 10
13 Gisting 1 1 10 10
14 Gunung Alip 3 3
15 Pugung 13 15
16 Bulok 1 1
17 Cukuh Balak 1 1
18 Kelumbayan
19 Limau 6 5
20 Kelumbayan Barat 1 1
Jumlah 5 5 122 125

Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

Tabel 26. Jumlah Sekolah SD di Kabupaten Tanggamus, 2020/2021 dan 2021/2022

No Kecamatan Sekolah
Negeri Swasta
2020/2021 2021/2022 2020/2021 2021/2022
1 Wonosobo 25 25 2 2
2 Semaka 30 30
3 BandarNegeri Semuong 13 13
4 Kota Agung 17 17 3 3
5 Pematang Sawa 15 15 1 1
6 Kota Agung Barat 13 13
7 Kota Agung Timur 13 13
8 Pulau Panggung 32 32
9 Ulu Belu 32 32
10 Air Naningan 20 20
11 Talang Padang 20 20 1 1
12 Sumberejo 24 24
13 Gisting 19 19 2 2
14 Gunung Alip 13 13
15 Pugung 39 39
16 Bulok 17 17
17 Cukuh Balak 25 25
18 Kelumbayan 11 11
19 Limau 16 16
20 Kelumbayan Barat 6 6
Jumlah 400 400 9 9

Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

 

 

Tabel 27. Jumlah Sekolah SMP di Kabupaten Tanggamus, 2020/2021 dan 2021/2022

No Kecamatan Sekolah
Negeri Swasta
2020/2021 2021/2022 2020/2021 2021/2022
1 Wonosobo 2 2 4 4
2 Semaka 3 3 1 1
3 BandarNegeri Semuong 2 2
4 Kota Agung 1 1 5 5
5 Pematang Sawa 4 4
6 Kota Agung Barat 1 1 1 1
7 Kota Agung Timur 1 1 1 1
8 Pulau Panggung 1 1 2 2
9 Ulu Belu 4 4 2 3
10 Air Naningan 3 3 1 1
11 Talang Padang 2 2 4 4
12 Sumberejo 2 2 2 2
13 Gisting 1 1 4 4
14 Gunung Alip 1 1 2 2
15 Pugung 4 4 1 1
16 Bulok 4 4
17 Cukuh Balak 5 5 1 1
18 Kelumbayan 4 4
19 Limau 3 3
20 Kelumbayan Barat 3 3
Jumlah 51 51 31 32

Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

Tabel 28. Jumlah Sekolah SMA di Kabupaten Tanggamus, 2020/2021 dan 2021/2022

No Kecamatan Sekolah
Negeri Swasta
2020/2021 2021/2022 2020/2021 2021/2022
1 Wonosobo 1 1
2 Semaka 1 1
3 BandarNegeri Semuong
4 Kota Agung 2 2 1 1
5 Pematang Sawa 1 1
6 Kota Agung Barat
7 Kota Agung Timur 1 1
8 Pulau Panggung 1 1 1
9 Ulu Belu 2 2 1 1
10 Air Naningan 1 1
11 Talang Padang 1 1 1 1
12 Sumberejo 1 1 1 1
13 Gisting 1 1
14 Gunung Alip 1 1
15 Pugung 2 2
16 Bulok 1 1
17 Cukuh Balak 1 1
18 Kelumbayan 1 1
19 Limau 1 1
20 Kelumbayan Barat 1 1
Jumlah 17 17 8 9

Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

  1. Sarana Kesehatan

Terdapat berbagai macam jenis fasilitas kesehatan di Kabupaten Tanggamus yaitu seperti pondok bersalin desa, posyandu, puskesmas dan rumah sakit. Berikut merupakan jumlah dan persentase masing-masing fasilitas kesehatan tersebut.

Tabel 29. Jumlah Sarana Kesehatan di Kabupaten Tanggamus, 2021

No Kecamatan RS Umum Puskesmas Klinik Posyandu
1 Wonosobo 1 2 33
2 Semaka 1 34
3 Bandar Negeri Semuong 1 1 15
4 Kota Agung 1 3 42
5 Pematang Sawa 1 20
6 Kota Agung Barat 27
7 Kota Agung Timur 22
8 Pulau Panggung 1 1 44
9 Ulu Belu 1 1 51
10 Air Naningan 1 31
11 Talang Padang 1 3 68
12 Sumberejo 1 1 33
13 Gisting 1 1 4 48
14 Gunung Alip 2 24
15 Pugung 2 1 88
16 Bulok 1 29
17 Cukuh Balak 1 1 29
18 Kelumbayan 1 1 20
19 Limau 1 21
20 Kelumbayan Barat 1 12
Jumlah 2 17 21 691

                          Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka,2022

  1. Sarana Perdagangan

Pasar menjadi salah satu sarana perdagangan utama yang menopang ekonomi di Kabupaten Tanggamus. Pada tahun 2021, terdapat sebanyak 15 pasar di Kabupaten Tanggamus. Jumlah tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2018. Secara keseluruhan, sarana perdagangan berupa pasar sudah tersebar secara merata di setiap kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Perkembangan jumlah pasar di Kabupaten Tanggamus terangkum dan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

Tabel 30. Pasar di Kabupaten Tanggamus

No Nama Pasar
1 Pasar Tradisional Bandingagung
2 Pasar Tradisional Sukaraja
3 Pasar Tradisional Sirnagalih
4 Pasar Gisting
5 Pasar Naningan
6 Pasat Talang Padang
7 Pasar Kampung Cinta
8 Pasar Sumberejo
9 Pasar Sukaraja
10 Pasar Bulok
11 Pasar Datarajan
12 Pasar Sri Kuncoro
13 Pasar Tanjungan
14 Pasar Sukanegri Limau
15 Pasar Gisting Bawah

                                                   Sumber: Kabupaten Tanggamus dalam Angka, 2022

  • Ruang Terbuka Hijau

Berdasarkan perkembangannya selama 3 tahun terakhir luas RTH di Kabupaten Tanggamus tidak mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2019 adalah seluas 4.654.96 km2 dan pada tahun 2021 mengalami kenaikan menjadi 4.654.96 km2. Adapun secara lebih rinci, luas wilayah dan luas RTH di Kota Tarakan  dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 31. Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Tanggamus, 2021

Tahun Luas Wilayah ( km2) Luas RTH ( km2)
2019 4.654.96 0.05865
2020 4.654.96 0.02688
2021 4.654.96 0.02688

Sumber : SIPSN, 2021