Kabupaten Malaka merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berdasarkan posisi geografisnya berbatasan dengan Kabupaten Belu di utara, Laut Timor di selatan, Negara Timor Leste di timur, serta Kabupaten TTU dan TTS di bagian barat. Secara administratif, Kabupaten Malaka yang memiliki luas wilayah mencapai 1.160,63 Km2, terbagi atas 12 kecamatan serta 127 Desa. Seluruh kecamatan di Kabupaten Malaka berada di Pulau Timor, tidak ada yang berada di pulau terpisah.

  • Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Malaka Tengah dengan luas wilayah 168,69 km2 atau 14,53% dari luas wilayah Kabupaten Malaka,
  • sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Botin Leobele dengan luas wilayah 39,03 km2 atau 3,36% dari luas wilayah Kabupaten Malaka.

 Luas dan Tinggi Wilayah

Gambaran umum 12 kecamatan yang berada di Kabupaten Malaka dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Tabel 1.  Ibukota Kecamatan, Luas, dan Ketinggian di Kabupaten Malaka Per Kecamatan 2020

Kecamatan Ibukota Kecamatan Luas Wilayah Persentase Luas Wilayah Ketinggian
[1] [2] [3] [4] [5]
Wewiku Alkani 97,90 8,44% 21,00
Malaka Barat Besikama 87,41 7,53% 10,00
Weliman Kmi Laran 88,25 7,60% 19,00
Rinhat Biudukfoho 151,72 13,07% 553,00
Io Kofeu Fatuao 67,79 5,84% 482,00
Sasitamean Kaputu 65,48 5,64% 215,00
Malaka Tengah Betun 168,69 14,53% 48,00
Botin Leobele Sarina 39,03 3,36% 147,00
Laen Manen Eokpuran 94,02 8,10% 493,00
Malaka Timur Boas 83,28 7,18% 206,00
Kobalima Raihanek 120,95 10,42% 15,00
Kobalima Timur Maroma Mai 96,11 8,28% 472,00
Malaka 1.160,63 100%  

Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021 (diolah)

Adapun jarak antar kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Malaka (Betun) dapat dilihat pada grafik di bawah ini

Gambar 1 Jarak Antar Kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Malaka Tahun 2020
Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021. (Diolah)

 

Kondisi Fisik

  • Topografi

Keadaan topografi Kabupaten Malaka bervariasi antara ketinggian 0 sampai dengan +806 mdpl (meter di atas permukaan air laut). Variasi ketinggian rendah (0-269 mdpl) mendominasi wilayah bagian selatan, yaitu kecamatan Wewiku, Malaka Barat, sebagian Malaka Tengah dan Kobalima. Sementara pada bagian tengah wilayah ini terdiri dari area dengan dataran sedang (270-537 mdpl), yaitu sebagian Kecamatan Weliman, Malaka Tengah, Kobalima, dan Botin Leobele. Dataran tinggi (538-806 mdpl) di Kabupaten Malaka menempati kawasan bagian utara, yakni Kecamatan Laen Manen, Io Kufeu, sebagian Kecamatan Sasitamean, Malaka Timur dan Kobalima Timur. Bentuk topografi wilayah Kabupaten Malaka merupakan daerah datar berbukit-bukit hingga pegunungan dengan sungai-sungai yang mengalir ke utara dan selatan mengikuti arah kemiringan lerengnya. Pada umumnya kemiringan lahan di wilayah Kabupaten Malaka didominasi kemiringa antara 0–15%. Keadaan kemiringan lahan di wilayah Kabupaten Malaka dikelompokkan menjadi 5 kelas dengan masing-masing lokasi sebagai berikut:

  • Daerah dengan kemiringan lereng 0-8 %, yang merupakan dataran landai, terdapat di pesisir pantai selatan yakni Kecamatan Wewiku, Malaka Barat, sebagian besar Kecamatan Weliman, Malaka Tengah dan Kobalima.
  • Daerah kemiringan lereng 8-15%, merupakan daerah datar yang meliputi sebagian Kecamatan Kobalima, Kobalima Timur, kemudian sebagian Kecamatan Malaka Timur, Laenmanen, Kecamatan Rinhat, Malaka Tengah dan Botin Leobele.
  • Daerah dengan kemiringan lereng 15-30%, yaitu daerah landai atau bergelombang yang meliputi daerah lembah yang terletak diantara pegunungan, terdapat di sebagian besar Kecamatan Sasitamean dan Kecamatan Io Kufeu, kemudian sebagian Kobalima Timur, Malaka Timur, Rinhat dan Botin Leobele.
  • Daerah dengan kemiringan lereng 30-45%, yaitu daerah yang bergelombang dan berbukit terdapat sedikit di Kecamatan Malaka Timur.

 

  • Geologi dan Morfologi

Jenis tanah di Kabupaten Malaka didominasi oleh aluvial latosol dan renzina. Jenis tanah Aluvial seluas 46.,828,74 Ha, sebagian besar tersebar di Kecamatan Malaka Barat, Wewiku, Malaka Tengah, Kobalima dan Kobalima Timur. Jenis tanah latosol seluas 39.194,82 Ha sebagian besar tersebar di Kecamatan Rinhat, Sasitamean, Laen Manen, Malaka Timur dan Botin Leobele. Sementara jenis tanah Renzina seluas 21.829,18 Ha sebagian besar tersebar di Kecamatan Weliman, Malaka Tengah dan Io Kufeu. Jenis tanah grumosol terdapat di Kecamatan Laen Manen seluas 209.82 Ha, sementara jenis tanah mediteran terdapat di Kecamatan Io Kufeu dan Rinhat seluas 1.690,66 Ha.

Tabel 2. Jenis Tanah di Kabupaten Malaka

No Jenis Tanah Luas (Ha)
s1 Alluvial 48.698,92
2 Grumosol 218,19
3 Latosol 40.760,17
4                  Mediteran 1.758,17
5 Renzina 22.700,96
6 Lainnya 1.926,59
Jumlah 116.063,00

                          Sumber : RPIJM Bidang Cipta Karya Kabupaten Malaka Tahun 2017-2021

 

  • Klimatologi

Jika dilihat dari sisi iklim, rata-rata suhu udara di Kabupaten Malaka tahun 2020 berkisar antara 26,46˚C sampai dengan 29,26˚C dengan kelembaban udara rata-rata tahunan 78,9. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Malaka pada bulan Desember sebanyak 296,40 mm dan yang terendah di bulan Juli dan Agustus yaitu 0 mm dengan total hari hujan sebanyak 118 hari.

 

 

 

  • Kerawanan Bencana

Berdasarkan data BPS, bencana alam yang tercatat dalam kurun waktu 2018-2020 adalah longsor, pasang surut, dan kekeringan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Malaka 2017-2037, perincian daerah rawan bencana adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Kawasan Rawan Bencana di Kabupaten Malaka

No Kawasan Lokasi
1 Kawasan Rawan Longsor Semua kecamatan kecuali Kecamatan Wewiku dan Kecamatan Malaka Barat
2 Kawasan Rawan Banjir DAS Benenain meliputi Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Wewiku, Kecamatan Malaka Tengah, dan Kecamatan Kobalima
3 Kawasan Rawan Abrasi Pantai Wilayah pantai dan pesisir sepanjang di Kecamatan Malaka Barat, Kecamatan Wewiku, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Kobalima, dan Kecamatan Kobalima Timur
4 Kawasan Rawan Tsunami Wilayah pantai dan pesisir sepanjang Kecamatan Kobalima Timur, Kecamatan Kobalima, Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat, dan Kecamatan Wewiku.

Sumber : RTRW Kabupaten Malaka Tahun 2017-2037

 

Demografi

  • Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Malaka pada tahun 2020 adalah sebanyak 183.900 Jiwa dengan RJK (Rasio jenis kelamin) sebesar 97,8. Jumlah penduduk tersebut mengalami penurunan sebesar 5,35% dari tahun 2019. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2013-2020 adalah sebesar 1,04 %. Kabupaten Malaka memiliki kepadatan penduduk sedang yaitu 170 jiwa/Km2.

 

Perubahan jumlah penduduk dari tahun 2013-2020 dapat dilihat melalui diagram berikut :

Gambar 2 Jumlah Penduduk di Kab. Malaka 2013-2020
Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021

 

  • Jumlah Rumah Tangga

Jumlah rumah tangga di Kabupaten Malaka pada tahun 2020 sebanyak 52.927 KK, dengan jumlah rumah tangga terbanyak di Kecamatan Malaka Tengah (11.326 KK) dan paling sedikit di Kecamatan Botin Leo Bele (1.446 KK).

Tabel 4. Jumlah Rumah Tangga per Kecamatan di Kabupaten Malaka, 2020

No Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga (KK)
L P Total
1 Malaka Tengah 21.200 21.087 42.287 11.326
2 Malaka Barat 11.671 12.240 23.911 6.566
3 Wewiku 9.786 10.046 19.832 5.505
4 Weliman 10.274 10.489 20.763 5.645
5 Rinhat 7.115 7.307 14.422 3.954
6 Kufeu 4.219 4.433 8.653 2.326
7 Sasitamean 4.660 4.711 9.371 2.546
8 Laen Manen 6.879 6.655 13.534 3.484
9 Malaka Timur 5.220 5.306 10.526 2.825
10 Kobalima Timur 3.263 3.531 6.794 1.990
11 Kobalima 9.523 9.904 19.427 5.314
12 Botin Leo Bele 2.698 2.881 5.509 1.446
JUMLAH 96.508 98.521 195.02 52.927

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Malaka, 2021

 

  • Piramida Penduduk

Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Malaka merupakan penduduk usia muda, dengan kelompok usia tertinggi adalah usia 5-9 tahun (24.212 jiwa). Hal ini dimungkinkan karena tingkat fertilitas yang masih tinggi dan juga angka harapan hidup yang masih tergolong rendah, sehingga penduduk usia muda lebih banyak dibandingkan usia tua. Selanjutnya, berdasarkan komposisi jenis kelamin diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Malaka lebih sedikit daripada jumlah penduduk perempuan.

Tabel 5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin                                  di Kabupaten Malaka, 2020

No Usia Jumlah
Laki-laki Perempuan Total
1 0-4 11.025 11.438 22.463
2 5-9 12.474 11.738 24.212
3 10-14 11.884 11.453 23.337
4 15-19 9.644 9.437 19.081
5 20-24 5.839 7.113 12.925
6 25-29 5.046 6.271 11.317
7 30-34 4.542 5.972 10.514
8 35-39 4.858 6.175 11.033
9 40-44 5.087 6.020 11.107
10 45-49 4.936 5.488 10.424
11 50-54 4.524 5.005 9.529
12 55-59 3.958 4.137 8.095
13 60-64 3.121 3.156 6.277
14 65-69 2.417 2.436 4.853
15 70-74 1.521 1.734 3.255
16 75+ 1.502 1.848 3.350
Jumlah 92.378 99.426 191.804

Sumber:  BPS Kabupaten Belu, 2021

  • Proyeksi Penduduk

Berdasarkan proyeksi penduduk yang telah dilakukan, pada tahun 2041 penduduk di Kabupaten Malaka meningkat dari 183.900 jiwa (tahun 2020) menjadi 228.421 jiwa. Proyeksi tersebut dihitung dengan menggunakan rumus geometri seperti berikut:

Dengan : Pn  = Proyeksi penduduk tahun tertentu

Po  = Penduduk awal tahun

1    = konstanta

r     = angka pertumbuhan penduduk

n    = rentang tahun

Proyeksi tersebut menggunakan data jumlah penduduk dari tahun 2013 hingga 2020 karena pada tahun tersebut Kabupaten Malaka terjadi pemekaran dari Kabupaten Belu. Jumlah penduduk Kabupaten Malaka pada tahun 2013 adalah 171.079 jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 2013-2020 adalah 1,04%. Sehingga didapatkan hasil proyeksi seperti pada tabel berikut :

Tabel 5. Proyeksi Penduduk Kabupaten Malaka

Tahun Jumlah Penduduk (jiwa)
2013 171.079
2015 180.382
2020 183.900
2021 185.808
2025 193.643
2030 203.900
2035 214.702
2041 228.421

Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka (diolah), 2021

  • Kemiskinan

Gambaran kemiskinan di Kabupaten Malaka selama tahun 2013-2020 dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Jumlah penduduk miskin mengalami perkembangan fluktuatif hingga pada tahun 2020 mencapai 31.120 jiwa (16,04% dari keseluruhan).

Gambar 3 Jumlah Penduduk dan Garis Kemiskinan Kabupaten Malaka
Sumber: BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

 

Adapun perkembangan secara fluktuatif juga terlihat pada indeks kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan yang pada tahun 2020 mencapai angka 2,48 untuk indeks kedalaman kemiskinan (lebih rendah dari rerata Prov. NTT sebesar 4,15) dan 0,52 untuk Indeks Keparahan Kemiskinan (lebih rendah dari rerata Prov. NTT sebesar 1,24).

Gambar 4 Indeks Keparahan dan Kedalaman Kemiskinan Kabupaten Malaka
Sumber: BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

 

Perumahan dan Permukiman

  • Jumlah Bangunan dan Tipologi Permukiman

Budaya bermukim perumahan masyarakat Kabupaten Malaka tersebar di dataran, daerah tebing, bantaran sungai, pesisir pantai, dan lereng bukit. Detail persebaran kawasan bermukim masyarakat Kabupaten Malaka dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 7. Data Tipologi Perumahan dan Budaya Bermukim di Kabupaten Malaka

No Kecamatan Jumlah Desa Tipologi Budaya Bermukim
1 Malaka Tengah 17 9 desa berada di daerah dataran dekat pesisir pantai, 5  desa di daerah dataran dan 3 di kawasan pegunungan. 3 desa berada di daerah tebing, 5 desa di dataran sekitar  bantaran sungai dan 9 desa di pinggiran pantai.
2 Malaka Barat 16 11 desa berada di daerah dataran, termasuk di dalamnya  6 desa yang berada di pesisir pantai, sementara 5 desa  lainnya berada di lereng/kawasan pegunungan. 1 desa di bantaran sungai, 4 desa di daerah sekitar tebing  dan 6 di pinggiran pantai. Sedangkan 5 desa lainnya di  daerah dataran.
3 Wewiku 12 Semua desa di Kecamatan ini berada di daerah dataran,  dengan 7 desa di antaranya berada di daerah pesisir  pantai, sedangkan 5 desa lainnya berada di bantaran

sungai.

7 desa di pinggiran pantai dan 5 desa di bantaran sungai.
4 Weliman 14 13 desa berada di kawasan dataran, sedangkan 1 desa  berada di kawasan pegunungan. 5 desa berada di daerah bantaran sungai dan 1 desa  berada di tebing. Yang lainnya berada di dataran biasa.
5 Rinhat 20 Semua desa di Kecamatan Rinhat berada di daerah yang  relatif tinggi dengan topografi berada di kawasan  pegunungan, yaitu sebanyak 20 desa. Dari 20 desa yang berada di kawasan lereng / punggung  bukit, 4 di antaranya berada di sekitar bantaran sungai.
6 Io Kufeu 7 Semua desa di Kecamatan Io Kufeu berada di kawasan  pegunungan, yaitu sebanyak 7 desa. Dari 7 desa tersebut, 1 desa berada di bantaran sungai.
7 Sasitamean 9 Kecamatan Sasitamean terdiri dari 9 desa yang semuanya  berada di kawasan pegunungan. Semuanya berada di kawasan tebing.
8 Laen Manen 9 Kecamatan Laen Manen terdiri dari 9 desa yang  semuanya berada di kawasan pegunungan. Semuanya berada di kawasan tebing / punggung bukit.
9 Malak Timur 6 Semua desa di kecamatan Malaka Timur berada kawasan  pegunungan. Dari 6 desa yang berada di daerah tebing, 2 desa berada  di bantaran sungai.
10 Kobalima Timur 4 3 desa berada di kawasan pegunungan, sedangkan 1 desa  berada di daerah dataran sekaligus pesisir pantai. 3 desa berada di tebing , sedangkan 1 desa berada di  pinggiran pantai.
11 Kobalima 8 3 desa berada di kawasan pegunungan, sedangkan 5 desa  berada di daerah dataran sekaligus pesisir pantai. 3 desa berada di daerah tebing, sedangkan 5 desa lainnya  berada di pinggiran pantai.
12 Botin Leo Bele 5 5 desa yang ada di kecamatan Botin Leo Bele berada di  kawasan pegunungan. Dari 5 desa yang berada di kawasan tebing, 2 desa di  antaranya berada di bantaran sungai.

Sumber : BPS Belu – Statistik Daerah Kecamatan Di Malaka, 2021

Kawasan transmigrasi di Kabupaten Malaka ditetapkan di kawasan Kobalima Timur (76.209 ha), mencakup 99 desa di Kecamatan Laen Manen, Kobalima Timur, Kobalima, Weliman, Wewiku, dan Rinhat (Kemen PDTT No 118/2017).

  • Status Penguasaan Bangunan

Status penguasaan bangunan merupakan salah satu indikator kesejahteraan penduduk bagian perumahan. Semakin banyak penduduk yang mempunyai rumah sendiri maka semakin banyak juga masyarakat yang tergolong mapan dan sejahtera terutama memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan data pada buku statistik kesejahteraan Nusa Tenggara Timur tahun 2020, persentase kepemilikan bangunan tertinggi di Kabupaten Malaka adalah milik sendiri yaitu sebesar 94,87%. Berikut merupakan tabel persentase status penguasaan bangunan tahun 2018-2020 di Kabupaten Malaka :

 

 

Tabel 8. Persentase Status Penguasaan Bangunan

Status Penguasaan Bangunan Persentase (%)
2018 2019 2020
Milik Sendiri 91,95 95,43 94,87
Kontrak/Sewa 2 1,01 0,3
Bebas Sewa 6,05 3,22 1,27
Dinas/lainnya N/A 0,35 3,63

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Luas Lantai Bangunan Setiap Rumah

Luas lantai bangunan merupakan indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan penduduk. Idealnya, sebuah keluarga harus menempati rumah dengan luas lantai minimal 8 kali jumlah anggota keluarganya. Di Kabupaten Malaka, luas lantai yang mendominasi adalah 20-49 m2 yaitu 56,83%. Akan tetapi masih terdapat 1,24% bangunan yang memiliki luas lantai dibawah 20 m2. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan luas lantai di Kabupaten Malaka tahun 2018-2020 :

Tabel 9. Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Luas Lantai

Luas lantai (m²) Persentase (%)
2018 2019 2020
<19 2,88 2,33 1,24
20-49 59,14 50,97 56,83
50-99 31,73 34,49 35,23
100-149 5,76 11,28 5,65
150+ 0,49 0,94 1,05

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Luas Perkapita

Luas perkapita merupakan salah satu kriteria rumah layak huni. Berdasarkan publikasi BPS, luas perkapita minimal agar sebuah rumah dikatakan layak huni adalah ≥ 7,2 m2. Di Kabupaten Malaka, luas perkapita yang mendominasi adalah ≥ 10 m2 yaitu 64,17%. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan luas perkapita di Kabupaten Malaka pada tahun 2018-2020:

 

Tabel 10.  Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Luas Perkapita

Luas Perkapita (m²) Persentase (%)
2018 2019 2020
7,2 m² 18,04 15,68 15,61
7,3 – 9,9 m² 25,63 19,35 20,23
≥ 10 m² 56,34 64,97 64,17

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Atap Terluas

Bangunan berdasarkan atap terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan penutup bagian atas sebuah bangunan, sehingga anggota rumah tangga yang berada di rumah tersebut dapat terlindung dari terik matahari, hujan dan sebagainya. Di Kabupaten Malaka, sebanyak 92,54% menggunakan seng sebagai atap. Berikut merupakan persentase bangunan berdasarkan jenis atap terluas di Kabupaten Malaka tahun 2018-2020:

Tabel 11. Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Atap Terluas

Jenis Atap Persentase (%)
2018 2019 2020
Beton/Genteng/Asbes 0,35 0,53 0,58
Seng 86,07 89,26 92,54
Bambu/Kayu/Sirap N/A 0,68 0,3
Jerami/Ijuk/ Daun/Rumbia/Lainnya 13,59 9,53 6,58

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Dinding Terluas

Bangunan berdasarkan dinding terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan sisi luar/batas/penyekat dari suatu bangunan dengan bangunan lain. Di Kabupaten Malaka, sebanyak 56,02% rumah menggunakan batang kayu/bambu/lainnya sebagai dinding bangunan. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan dinding terluas di Kabupaten Malaka pada tahun 2018-2020 :

 

Tabel 12. Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Dinding Terluas

Jenis Dinding Persentase (%)
2018 2019 2020
Tembok/ Plesteran Anyaman Bambu/Kawat 22,32 42,22 35,27
Kayu/papan 6,14 5,12 8,57
Anyaman bambu 0,33 n.a 0,15
Batang Kayu/ Bambu/Lainnya 71,21 52,66 56,02

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Lantai Terluas

Bangunan berdasarkan jenis lantai terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan bagian bawah/dasar/alas suatu ruangan, baik terbuat dari marmer, keramik, granit, tegel/teraso, semen, kayu, tanah dan lainnya seperti bambu. Di Kabupaten Malaka, kebanyakan bangunan menggunakan semen/bata merah sebagai lantai yaitu 59,86% dari total bangunan. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan jenis lantai terluas di Kabupaten Malaka pada tahun 2018-2020:

            Tabel 13. Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Lantai Terluas

Jenis Lantai Persentase (%)
2018 2019 2020
Marmer/Granit/Keramik/ Parket/Vinyl/ Karpet 11,27 19,56 14,84
Ubin/tegel/teraso 0,05 0,21 0,18
Kayu/papan 8,52 5,61 2,86
Semen/bata merah 55,2 54,58 59,86
Bambu/Tanah/ Lainnya 24,96 20,05 22,26

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

 

 

 

  • Backlog Perumahan

Jumlah backlog di Kabupaten Malaka pada tahun 2020 sebanyak 1.206 KK, dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Malaka Tengah (329 KK) dan paling sedikit di Kecamatan Sasitamean (18 KK).

  Tabel 14. Jumlah Backlog Kabupaten Malaka, 2020

Kecamatan Backlog (KK)
Botin Leobele 28
Io Kufeu 49
Kobalima 127
Kobalima Timur 47
Laenmanen 120
Malaka Barat 212
Malaka Tengah 302
Malaka Timur 67
Rinhat 36
Sasitamean 17
Weliman 60
Wewiku 67
Total 1.132

                                   Sumber : Dinas PUPR Kabupaten Malaka, 2020

  • Rumah Tidak Layak Huni

Menurut Dinas Sosial Kabupaten Malaka, jumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Malaka pada tahun 2020 sebanyak 5.020 unit, dengan jumlah RTLH terbanyak di Kecamatan Malaka Tengah (1.016 unit) dan paling sedikit di Kecamatan Rinhat (133 unit) dan Kecamatan Kobalima Timur (136 unit). Namun menurut Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Malaka, jumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Malaka pada tahun 2020 sebanyak 21.462 unit, dengan jumlah RTLH terbanyak di Kecamatan Malaka Tengah (3.182 unit) dan paling sedikit di Kecamatan Botin Leo Bele (663 unit).

 

 

 

 

Tabel 15. Jumlah RTLH di Kabupaten Malaka, 2020

NO Kecamatan Jumlah RTLH (Unit)
Dinas Sosial Dinas Perumahan
1 Malaka Tengah 1.016 3.182
2 Malaka Barat 790 2.765
3 Wewiku 482 2.208
4 Weliman 422 2.577
5 Rinhat 133 2.099
6 Io Kufeu 196 1.384
7 Sasitamean 356 1.393
8 Laen Manen 699 1.840
9 Malaka Timur 253 1.326
10 Kobalima Timur 136 713
11 Kobalima 287 1.319
12 Botin Leo Bele 250 663
Jumlah 5.020 21.469

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Malaka, 2021; Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Malaka, 2021

 

  • Kawasan Permukiman Kumuh

Kawasan di permukiman di Kabupaten Malaka berada di area pedesaan, belum ada kawasan permukiman di area perkotaan. Dengan demikian, Peraturan Daerah Kabupaten Malaka belum mengatur luasan kawasan kumuh. Namun Dinas PU melalui Bidang Cipta Karya mengambil sampling data di Desa Wehali yang terdiri dari 8 dusun 1097 KK. Dari data yang dihimpun 8 Dusun tersebut termasuk kawasan kumuh karena penataan drainase belum ada, sanitasi tidak terlaksana dengan baik, limbah cair dibuang sembarangan,sampah yang berserakan karena TPS belum memadai, pemukiman belum tertata sesuai standar IMB.

 

 

 

  • Kampung Adat

Kawasan strategis kabupaten untuk kepentingan sosial budaya adalah kawasan yang memiliki rumah adat, perkampungan adat, dan peninggalan jaman penjajahan berupa benteng. Di tempat ini terdapat banyak peninggalan megalitik yang mempunyai keunikan yang cukup menarik dan menakjubkan serta peninggalan leluhur yang mempunyai kekuatan gaib tersendiri. Rumah dan perkampungan adat lainnya di Kabupaten Malaka antara lain adalah:

  1. Rumah Adat Ai Lotuk Laran di Laran desa Wehali Kecamatan Malaka Tengah
  2. Rumah adat Wesey Wehali di Kecamatan Malaka Tengah
  3. Perkampungan Adat Bolon di Kecamatan Malaka Tengah
  4. Perkampungan Adat Haitimuk di Kecamatan Weliman
  5. Rumah adat Io Kofeu di Kecamatan Io Kufeu

Rencana pengembangan pada kawasan ini adalah dengan melakukan pengamanan terhadap kawasan atau melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah, situs purbakala, dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu dengan membuat ketentuan-ketentuan yang perlu perhatian.

Rencana pengembangan kawasan sosio-budaya sekitar rumah adat dan benteng yaitu berupa zonasi kawasan pengembangan di sekitar rumah adat dan benteng. Pembagian zonasi kawasan bertujuan untuk menjaga nilai historis dan menjaga kelestarian dan kealamian dari benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya.

Dalam RTRW Kabupaten Malaka 2017 – 2037 disebutkan bahwa ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya disusun untuk:

  1. pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, dan pariwisata
  2. melarang pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan
  3. benda cagar budaya berupa bangunan peninggalan sejarah yang harus dikonversi dan direhabilitasi karena mengalami kerusakan
  4. penerapan sistem bagi bangunan yang dilestarikan dan disinsentif bagi bangunan yang mengalami perubahan fungsi

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kab. Malaka (Database Kepariwisataan Provinsi NTT Tahun 2019), terdapat beberapa kampung adat dengan potensi daya tarik wisata.

Tabel 16. Persebaran Kampung Adat dengan Potensi Wisata di Kabupaten Malaka, 2019

No Kecamatan Nama Objek Desa/Kelurahan
1 Malaka Barat Perkampungan Adat Lasaen Lasaen
Perkampungan Adat Umaklaran

Perkampungan Adat Umalor

Umalor
Kampung Adat Rabasa Rabasa
Kampung Adat Loomota Umatoos
2 Malaka Tengah Perkampungan Adat Bolon Fahiluka
Perkampungan Adat Kateri Kateri
Perkampungan Adat Kamanasa Kamanasa
3 Malaka Timur Sadan Lorodirma Sanleo
Perkampungan Adat Lorodirma Sanleo
Perkampungan Adat Tuaninu Desa Kusa
4 Wewiku Kampung Adat Weoe Weoe
Kampung Adat Wanibesak Lorotolus
5 Kobalima Perkampungan Adat Sisi Sisi
Perkampungan Adat Lakekun Lakekun
Perkampungan Adat Wekumu Desa BABulu
6 Rinhat Perkampungan Adat Tafuli Tafuli
7 Io Kufeu Perkampungan Adat Baunakan Tunabesi
Perkampungan Adat Tunuahu Bani-bani
8 Sasitamean Perkampungan Adat Builaran Builaran
9 Laenmanen Perkampungan Adat Kakuun Nauke Kusa
10. Botin leobele Perkampungan Adat Babotin BABotin

Sumber : Dinas Pariwisata Kab. Malaka, 2019

Prasarana dan Sarana Umum

  • Prasarana Jalan

Prasarana jalan di Kabupaten Malaka berdasarkan data BPS bahwa panjang ruas jalan Kabupaten Malaka adalah 1.145km dimana 71,06% nya merupakan jalan kabupaten. Sebagian besar jalan sudah menggunakan aspal namun masih terdapat jalan kerikil, tanah, dan lainnya sebesar 29,83%. Jika ditinjau dari kondisi jalannya, terdapat 31,6% jalan yang masuk kategori rusak-rusak berat. Rincian kondisi, jenis, dan tingkat kewenangan jalan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

 

 

Tabel 17. Tingkat Kewenangan, Kondisi, dan Jenis Jalan Kabupaten Malaka

No. Jenis Jumlah Persentase
1 Negara 66,58 14,33%
2 Provinsi 67,93 14,62%
3 Kabupaten 330,23 71,06%
Jumlah 464,74 100,00%
No. Jenis Jumlah Persentase
1 Baik 208,95 63,27%
2 Sedang 16,93 5,13%
3 Rusak 5,70 1,73%
4 Rusak Berat 98,65 29,87%
Jumlah 330,23 100,00%
No. Jenis Jumlah Persentase
1 Aspal 231,59 70,13%
2 Kerikil 98,64 29,87%
3 Tanah 0,00%
4 Lainnya 0,00%
Jumlah 330,23 100,00%

Sumber : BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

Adapun terkait transportasi laut, meskipun sebagian wilayah Kabupaten Malaka adalah daerah pantai, namun tidak ada pelabuhan sebagai bagian dari sistem transportasi.

  • Prasarana Drainase

Berdasarkan RPIJM 2017-2021, secara umum kondisi jaringan drainase perkotaan belum cukup tersedia dengan layak, baik pada ruas jalan utama maupun di unit lingkungan permukiman. Hasil kajian studi EHRA tahun 2015 menunjukkan bahwa 37.4% daerah di Kabupaten Malaka tergenang secara rutin. Hal ini  dipengaruhi juga oleh kondisi topografi Kabupaten Malaka yang relatif datar.

Kegiatan pembangunan sanitasi di Kabupaten Malaka khususnya pada sektor drainase perkotaan belum berjalan dengan baik. Banyak terjadi penyumbatan pada drainase – drainase yang ada oleh sampah ataupun tanah dan batu. Drainase yang ada tidak dibersihkan dengan baik, sehingga tidak dapat berfungsi maksimal. Di lokasi – lokasi tertentu, ada masyarakat yang mengalihfungsikan drainase sebagai tempat pembuangan akhir air limbah (air cucian dan air mandi). Ini yang merupakan faktor pemicu terjadinya genangan air pada waktu hujan. Pemeliharaan terhadap drainase – drainase yang adapun tidak pernah dilakukan sehingga terlihat banyak drainase yang mengalami kerusakan.

            Tabel 18. Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase Perkotaan Kabupaten Malaka

No Jenis Prasarana/Sarana Satuan Dimensi Kondisi Frekuensi Pemeliharaan Per tahun
B (m) H (m) Berfungsi Tidak Berfungsi
1 Desa Umakatahan            
  Saluran Sekunder Umakatahan (1479 m) m 1,00 0,80 1.80 0 2 kali
Bangunan Pelengkap

·         Rumah Pompa

·         Pintu air

·         Kolam retensi

·         Trash rack/ saringan sampah

unit 0 0 0 0
2 Desa Wehali            
Saluran Sekunder

Wehali 1 (739.5 m)

m 1,00 0,80 1.80 0 2 kali
Saluran Sekunder

 

m 1,6 1,30 1.80 0 2 kali
Wehali 2 (739,5 m)            
Bangunan Pelengkap

·      Rumah Pompa

·      Pintu air

·      Kolam retensi

·      Trash rack/saringan sampah

 

unit 0 0 0 0

                                                Sumber: RPIJM 2017-2021 Kabupaten Malaka

  • Prasarana Persampahan

Pengelolaan sampah di Kabupaten Malaka dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malaka. Tapi sebagian besar sampah masih dibuang secara langsung ke halaman rumah, saluran drainase, sungai, maupun dibakar. Untuk penanganan sampah, baru mencakup beberapa desa di Kecamatan Malaka Tengah yang dekat dengan ibukota kabupaten. Dari data hasil studi EHRA tahun 2015 diketahui pengelolaan sampah 100 % tidak memadai. Keberadaan pengolahan sampah di tingkat masyarakat yang menjadi barometer dasar pengolahan didapati sebanyak 98.4% masyarakat tidak mengolah sampah dan sisanya 1.6% mengolah sampah sendiri. Sampah yang dikelola pun hanyalah sampah ditempat (sampah dari tumbuhan hijau seperti daun untuk dijadikan pupuk).

Penanganan sampah di Kabupaten Malaka baru mencakup beberapa desa di Kecamatan Malaka Tengah yang dekat dengan ibukota kabupaten yaitu dengan adanya ketersediaan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dengan jumlah sebanyak 29 buah tong/drum sampah di desa Wehali (lokasi menyebar), 2 buah container di desa Wehali, 7 buah bak sampah di desa Wehali dan Umanen Lawalu. Untuk kegiatan pengangkutannya dilayani oleh 2 buah motor sampah dan 2 unit truk sampah yang beroperasi setiap hari. Sampah – sampah yang diangkut tidak dilakukan proses pemilahan lagi sehingga langsung dibuang ke hutan. Hal ini dilakukan karena belum tersedianya tempat pengolahan dan pembuangan akhir. Di Kabupaten Malaka juga belum tersedianya sistem pengelolaan sampah berbasis 3R (Reuse, Reduce dan Recycle).

Pengelolaan dan penanganan persampahan di Kabupaten Malaka khususnya Kota Betun saat ini ditangani oleh Bidang Kebersihan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malaka. Fokus penanganan diarahkan pada kawasan pasar karena pasar Kota Betun merupakan penghasil sampah terbesar. Kinerja penanganan persampahan di Kabupaten Malaka masih belum optimal, dari hasil survey hanya ada 2 truk sampah, TPS berjumlah 29 buah untuk melayani kawasan seluas 3.226 hektar, TPA yang bersifat open dumping dan merupakan lahan milik warga merupakan gambaran infrastruktur pengolahan persampahan di Kota Betun. Sebagai Kabupaten yang baru berdiri di tahun 2013, Pemda Kabupaten Malaka belum menganggap permasalahan sampah sebagai hal yang diprioritaskan. Salah satu penyebabnya karena terbatasnya keuangan daerah dan prioritas pembangunan masih diarahkan ke sektor yang lain. Khusus untuk sampah yang berasal dari rumah tangga masih ditangani secara individual (rumah tangga) dengan cara membakar atau menimbun sedangkan sampah organik biasanya langsung ditangani oleh masing-masing rumah tangga dan ada yang diolah kembali menjadi makanan ternak. Adapun rencana pengembangan TPA di Desa Barene Kecamatan Malaka Tengah dengan menggunakan metode sanitary landfill.

Tabel 19. Data Pengelolaan Persampahan di Kabupaten Malaka Tahun 2013-2015

No Uraian Satuan/ Besaran 2013 2014 2015
Data Pengumpulan Sampah
1 Jumlah Penduduk Jiwa 17.964
2 Asumsi Produksi Sampah Lt/org/hr
3 Asumsi Produksi Sampah M3/hr 40,42
4 Cakupan Layanan Geografis Ha 3.226
5 Cakupan Layanan Penduduk Jiwa 985
Data TPA
1 Nama TPA   TPA Barada
2 Status TPA Sewa / Milik Milik Warga
3 Luas TPA Ha 15
4 Kapasitas M3/hr 12
5 Sistim OD/SL Open dumping
6 Jarak ke Permukiman Terdekat Km 1,5
7 Jarak ke Permukiman Terjauh Km 3
Data Transportasi Persampahan
1 Jumlah layanan terangkut M3/hr 12
2 Jumlah Kendaraan        
  Truk Unit 2
3 Jumlah Peralatan        
  Gerobak Unit
  Container Unit   2
4 Transfer Depo Unit
5 Jumlah TPS Unit 29

Sumber: RPIJM 2017-2021 Kabupaten Malaka

 

  • Prasarana Telekomunikasi

Sistem jaringan telekomunikasi di Kabupaten Malaka terdiri atas jaringan prasarana telekomunikasi dan jaringan prasarana telematika nirkabel. Prasarana telekomunikasi yang dikembangkan meliputi:

  1. Jaringan prasarana telekomunikasi sistem kabel di perkotaan Betun ditingkatkan menjadi sistem serat optik
  2. Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi sistem fiber optik dikembangkan pada wilayah pusat-pusat pertumbuhan dan sepanjang jalan kolektor
  3. Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi melalui sistem seluler ditingkatkan melalui tower-tower Base Transceiver Station (BTS) yang dikembangkan di seluruh kecamatan di Kabupaten Malaka
  4. Mengarahkan untuk memanfaatkan secara bersama pada satu tower BTS untuk beberapa operator telepon seluler dengan pengelolaan bersama hingga menjangkau pelosok perdesaan
  5. Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi sistem satelit dilakukan untuk meningkatkan pelayanan di wilayah terpencil atau yang tidak bisa dilayani oleh kedua sistem lainnya.

Adapun rencana pengembangan prasarana telematika meliputi sistem kabel, sistem seluler, dan sistem satelit. Dua operator seluler telah menjangkau wilayah Kabupaten Malaka, namun  keduanya belum mampu menampung kebutuhan komunikasi setempat. Hal ini ditunjukkan dengan masing seringnya gangguan hubungan komunikasi pada saat-saat tertentu.

 

  • Jaringan Listrik dan Penerangan

Profil prasarana listrik di Kabupaten Malaka adalah sebagai berikut.

Tabel 20. Profil Kelistrikan Kabupaten Malaka

Tahun Daya Terpasang (KWh) Produksi Terjual (KWh) Listrik Terjual (KWh) Dipakai Sendiri (KWh) Susut/Hilang (KWh)
2019 4.041.750

Sumber : BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

Sedangkan bila kita meninjau jaringan penerangan, sumber penerangan masyarakat Kabupaten Malaka dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 21. Data Sumber Penerangan Kabupaten Malaka

No Jenis Perkotaan Pedesaan Total
1 Listrik PLN dengan Meteran 96,82% 58,38% 67,01%
2 Listrik PLN Tanpa Meteran 3,18% 17,87% 14,57%
3 Listrik Non PLN 0,00% 11,02% 8,55%
4 Bukan Listrik 0,00% 12,73% 9,87%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

Sedangkan rencana sistem jaringan energi sebagaimana tercantum dalam RTRW Kabupaten Malaka adalah sebagai berikut.

  • pembangunan PLTD Sub Ranting Eokpuran;
  • meningkatkan kapasitas penyediaan energi listrik melalui pengembangan sumber energi listrik melalui pembangunan NF2 (Non Fossil Fuel) atau listrik non Bahan Bakar Minyak (BBM), meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) di seluruh kecamatan; dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di seluruh kecamatan.
  • mengoptimalkan pelayanan kelistrikan terutama untuk melayani pusat-pusat agropolitan, minapolitan, agroindustri dan ekowisata;
  • mengembangkan sistem distribusi jaringan listrik primer, sekunder dan tersier, khususnya di Perkotaan Betun dan di seluruh pusat-pusat kecamatan hingga jangkauan pelayanan listrik mencapai pelosok desa; dan
  • pemenuhan kebutuhan daya listrik 20 tahun yang akan datang di Kabupaten Malaka.

 

  • Jaringan Air Bersih dan Air Minum

Sumber air minum di Kabupaten Malaka sebagian besar berasal dari sumur terlindung (35,96%). Perincian sumber air minum dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 22. Sumber Air Minum Kabupaten Malaka

No Jenis Perkotaan Pedesaan  
1 Air Kemasan 0,00% 0,00% 0,00%
2 Air Isi Ulang 19,30% 0,61% 4,82%
3 Ledeng Meteran 0,00% 1,16% 0,90%
4 Sumur Bor 18,31% 17,17% 17,35%
5 Sumur Terlindung 44,11% 33,60% 35,96%
6 Sumur Tak Terlindung 0,00% 4,96% 3,85%
7 Mata Air Terlindung 18,28% 28,99% 26,64%
8 Mata Air Tak Terlindung 0,00% 5,04% 3,91%
9 Air Permukaan, Hujan dan Sumber Tidak Terlindung 0,00% 6,24% 4,84%
10 Air Hujan 0,00% 2,23% 1,73%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

Untuk kualitas air minum, sebanyak 40,12% penduduk mengakses air minum bersih sehingga prasarana air minum menjadi salah satu prasarana yang perlu ditingkatkan di Kabupaten Malaka.

  • Sarana Sanitasi

Sarana sanitasi di Kabupaten Malaka dapat ditinjau dari jenis tempat pembuangan akhir tinja serta kepemilikan fasilitas pembuangan akhir tinja. Di Kabupaten Malaka, dominasi jenis tempat pembuangan akhir tinja adalah IPAL/ septic tank sebesar 87,81%. Perinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 23. Jenis Tempat Pembuangan Akhir Tinja Kabupaten Malaka

No Jenis Jumlah Presentase
1 IPAL/ Septic Tank 87,81%
2 Septic Tank (ditangani oleh Dinas CK) 2.848 Total dari tahun 2016 sampai 2021
3 Lubang Tanah 12,09%
4 Lainnya 0,10%
Jumlah   100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

Adapun berdasarkan kepemilikannya, sebanyak 62,51% telah memiliki fasilitas BAB sendiri. Sedangkan terdapat 14,71% masyarakat yang tidak memiliki fasilitas BAB.

                   Tabel 24. Kepemilikan Fasilitas BAB di Kabupaten Malaka

No Jenis Perkotaan Pedesaan Total
1 Sendiri 90,11% 54,54% 62,51%
2 Sendiri namun Bersama 9,89% 19,57% 17,40%
3 Komunal 0,00% 6,94% 5,38%
4 Tidak ada Fasilitas 0,00% 18,95% 14,71%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

Sistem pengolahan air limbah domestik (Blackwater) masih dikelola secara on-site system (setempat) yang artinya limbah yang ada ditampung pada suatu wadah yang disebut dengan  tangki septik dan terjadi penguraian oleh bakteri pengurai dan selanjutnya langsung meresap ke  dalam air tanah. Untuk pengolahan lumpur tinja tidak bisa dilakukan karena tidak ditunjang dengan sarana yang memadai dalam hal ini Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), IPAL Komunal maupun alat penyedot lumpur tinja. Selain itu juga masih banyak masyarakat di  Kabupaten Malaka yang masih melakukan BABs. Hal ini diketahui berdasarkan hasil studi EHRA  tahun 2015.

Tabel 25. Cakupan Layanan Air Limbah Domestik On-Site Kabupaten Malaka 2017

No Kecamatan Jumlah Penduduk Tangki Septik Individual Akses Dasar (KK)
Tangki Septik Individual Belum aman Cubluk BABs (KK)
1 Malaka Barat 5.368 1.473 1.462 239 1.313
2 Rinhat 4.079 750 3.272 1.760 2.409
3 Wewiku 5.230 878 1.225 145 2.494
4 Weliman 5.155 731 1.457 688 2.451
5 Sasitamean 1.439 1.265 1.232 473 585
6 Io Kufeu 2.323 1.451 425 150 129
7 Botin Leobele 1.439 482 934 643 478
8 Malaka Timur 2.528 1.292 1.561 823 498
9 Laen manen 3.216 1.430 794 54 864
10 Kobalima 4.201 1.849 4.444 1.120 289
11 Kobalima Timur 1.725 634 1.231 374 611
12 Malaka Tengah 9.202 2.931 3.674 498 2.303

Sumber: RPIJM 2017-2021 Kabupaten Malaka

 

Tabel 26. Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik Kabupaten Malaka, 2017

No Jenis Satuan Jumlah/

Kapasitas

Kondisi Keterangan
Berfungsi Tidak

 Berfungsi

SPAL Setempat (Sistem Onsite)
1 Berbasis Komunal          
MCK Komunal Unit 57 57 0 Baik
2 Truk Tinja Unit 0 0 0 Tidak Ada

 

3 IPLT: Kapasitas M3/hari 0 0 0 Tidak Ada
SPAL Setempat (Sistem Onsite)
1 Berbasis Komunal          
Tangki Septik Komunal >10 KK Unit 780 780 0 Baik
IPAL Komunal Unit 0 0 0 Tidak Ada
2 IPAL Kawasan/ Terpusat          
Kapasitas M3/hari 0 0 0 Tidak Ada
3 IPLT: Kapasitas M3/hari 0 0 0 Tidak Ada

Sumber: RPIJM 2017-2021 Kabupaten Malaka

 

 

 

  • Sarana Peribadatan

Sarana peribadatan di Kabupaten Malaka adalah masjid, musholla, gereja protestan, gereja katolik, pura, dan vihara. Jumlah sarana peribadatan di Kabupaten Malaka terangkum dalam tabel di bawah ini.

                              Tabel 27. Jumlah Fasilitas Peribadatan Kabupaten Malaka

No Jenis Jumlah Presentase
1 Masjid 3 1,18%
2 Musholla 2 0,79%
3 Gereja Protestan 81 31,89%
4 Gereja Katolik 168 66,14%
5 Puta 0,00%
6 Vihara 0,00%
Jumlah 254 100,00%

Sumber : BPS Provinsi NTT Dalam Angka, 2021

 

  • Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan di Kabupaten Malaka terdiri dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan Universitas. Jumlah Sarana pendidikan di Kabupaten Malaka terangkum dalam tabel di bawah ini.

                   Tabel 28. Jumlah Fasilitas Pendidikan Kabupaten Malaka

No. Jenis Jumlah Persentase
1 PAUD/KB   140  
2 PAUD/PKBM   7  
3 TK   9  
4 SD 122 207 54,71%
5 SMP 58 59 26,01%
6 SMA 36 33 16,14%
7 SMK 5 6 2,24%
8 Universitas 2 2 0,90%
Jumlah 223 463 100,00%

Sumber : BPS Provinsi NTT Dalam Angka, 2021

 

  • Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan terdiri dari rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, puskesmas pembantu, dan apotek. Jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Malaka terangkum dalam tabel di bawah ini.

                                   Tabel 29. Jumlah Fasilitas Kesehatan Kabupaten Malaka

No Kabupaten/Kota RS RS Bersalin Poliklinik Puskesmas Pustu Apotek Jumlah
1 Malaka Tengah 1 0 0 2 4 12 22
2 Malaka Barat 0 0 0 1 2 3 6
3 Malaka Timur 0 0 0 1 3 0 4
4 Wewiku 0 0 0 2 3 2 7
5 Weliman 0 0 0 1 2 2 5
6 Rinhat 0 0 0 4 0 0 4
7 Sasitamean 0 0 0 1 1 0 2
8 Io kufeu 0 0 0 2 0 0 2
9 Laen Manen 0 0 1 2 3 0 6
10 Botin Leobele 0 0 0 1 2 0 3
11 Kobalima 0 0 0 2 3 2 7

 

12 Kobalima Timur 0 0 0 1 0 0 1
  Jumlah 1 0 4 20 23 21 69

Sumber : BPS Provinsi NTT Dalam Angka, 2021

 

  • Sarana Perdagangan

Sarana perdagangan terdiri pasar, toko, kios, dan warung. Jumlah sarana perdagangan di Kabupaten Malaka terangkum dalam tabel di bawah ini.

 

 

Tabel 30. Jumlah Sarana Perdagangan Kabupaten Malaka

No Jenis Jumlah Persentase
1 Pasar  37 2,31%
2 Toko  7 0,44%
3 Kios  1.494 93,43%
4 Warung  61 3,81%
Jumlah  1.599 100,00%

Sumber : Kabupaten Dalam Angka, 2020

 

  • Ruang Terbuka Hijau

Arahan kebijakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Malaka dengan proporsi paling sedikit 30% dari luas kawasan perkotaan, meliputi:

  1. RTH publik, yaitu taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan sungai dan  pantai, dengan proporsi paling sedikit 20% (dua puluh persen); dan
  2. Ruang Terbuka Hijau (RTH) privat yaitu kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan, dengan proporsi 10% (sepuluh persen).

Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan di Kabupaten Malaka meliputi lahan seluas 5.238,82 Ha dari 18.341,38 Ha kawasan  perkotaan di Kabupaten Malaka. Kawasan hutan di Kabupaten Malaka terdiri dari hutan lindung, hutan produksi, cagar alam, dan suaka margasatwa. Tidak terdapat hutan tetap, taman burung, taman wisata, dan hutan yang dapat dikonversi di Kabupaten Malaka. Data kehutanan di Kabupaten Malaka ada di tabel berikut ini.

Tabel 31. Data Kehutanan Kabupaten Malaka

No Kecamatan Hutan Lindung Hutan Produksi Cagar Alam Suaka Margasatwa Jumlah (Ha)
1 Malaka Tengah     3.181,38 4.548,16 7.729,54
2 Malaka Barat          
3 Wewiku          
4 Weliman          
5 Rinhat 2.241,97 2.562,07     4.804,04
6 Io Kufeu          
7 Sasitamean          
8 Laen Manen   3.083,80     3.083,80
9 Malaka Timur 1.169,22       1.169,22
10 Kobalima Timur 1.484,09       1.484,09
11 Kobalima 858,63       858,63
12 Botin Leo Bele          
Total 5.753,91 5.645,87 3.181,38 4.548,16 19.129,32

Sumber: BPS – Malaka Dalam Angka 2019 (data dihimpun Dari Dinas Kehutanan Kab. Malaka)

Berdasarkan SK.7875/MenLHK-PHPL/KPHP/HPL.0/12/2020, Kabupaten Malaka memiliki kawasan hutan dengan luas total 111.655,43 ha, meliputi Area Penggunaan Lain (94.817,99 ha), Cagar Alam (3.181,38 ha), Hutan Lindung (3.462,05 ha), Hutan Produksi (2.562,07 ha), Hutan Produksi Terbatas (3.083,80 ha), dan Kawasan Suaka Alam Darat (4.548,14 ha). Adapun kawasan perkebunan seluas 33.672,50 ha dan kawasan pertanian 28.789,67 ha (pertanian lahan basah 3.789,60 ha dan pertanian lahan kering 25.000,07 ha).