Provinsi Jambi adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Secara geografis, Provinsi Jambi terletak di antara 0,45° – 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10° – 104,55° Bujur Timur. Awalnya Provinsi Jambi menyatu dengan Provinsi Sumatera Tengah.  Namun pada tanggal 6 Januari 1957 Provinsi Jambi melepaskan diri dari Provinsi Sumatera Tengah melalui sidang pleno BKRD (Badan Kongres Rakyak Djambi) dan membentuk provinsi sendiri. Adapun batas-batas wilayah Provinsi Jambi antara lain :

  • Sebelah Utara : Berbatasan dengan Provinsi Riau
  • Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan
  • Sebelah Barat : Berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat
  • Sebelah Timurnya : Berbatasan dengan Selat Berhala

Berikut menurupakan peta Provinsi Jambi:

 

Luas Wilayah Provinsi Jambi adalah 50.160,05 km2. Berikut merupakan luas wilayah menurut kabupaten/kota di Provinsi Jambi:

Tabel 1. Luas Wilayah menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi

No. Kabupaten/kota Ibu kota Luas Wilayah (km²)
1 Kabupaten Kerinci Siulak 3.355,27
2 Kabupaten Merangin Bangko 7.679,00
3 Kabupaten Sarolangun Sarolangun 6.184,00
4 Kabupaten Batanghari Muara Bulian 5.804,00
5 Kabupaten Muaro Jambi Sengeti 5.326,00
6 Kabupaten Tanjung Jabung Timur Muara Sabak 5.445,00
7 Kabupaten Tanjung Jabung Barat Kuala Tungkal 4.649,85
8 Kabupaten Tebo Muara Tebo 6.461,00
9 Kabupaten Bungo Muara Bungo 4.659,00
10 Kota Jambi Jambi 205,43
11 Kota Sungai Penuh Sungai Penuh 391,5
Provinsi Jambi Kota Jambi 50.160,05

Sumber: BPS Provinsi Jambit, 2019

 

Kependudukan

Provinsi Jambi memiliki jumlah penduduknya sebanyak 3.406.178 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 71,18 jiwa/ km². Komposisi penduduk di Provinsi Jambi mayoritas laki-laki sebanyak 1.821.381 jiwa sedangkan komposisi perempuan hanya sebanyak 1.748.891 jiwa. Suku Bangsa di Provinsi Jambi adalah Melayu, Kubu dan Kerinci. Mayoritas Penduduk Provinsi Jambi memeluk Agama Islam (sekitar 98,4%) dan sisanya adalah pemeluk agama Kristen (1,1%), agama Buddha (0,26%) dan agama Hindu (0,117%). Berikut merupakan tabel jumlah penduduk Provinsi Jambi:

Tabel 2. jumlah penduduk menurut kabupaten/kota di Provinsi Jambi Tahun 2018

Kabupaten/Kota /Propinsi Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (Jiwa/km2)
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan
2018 2018 2018
Kerinci 118656 119135 237791 70,87
Merangin 196265 187215 383480 49,94
Sarolangun 150732 145253 295985 47,86
Batang Hari 137686 132280 269966 46,51
Muaro Jambi 223309 208996 432305 81,17
TanjabTimur 112118 106295 218413 40,11
Tanjab Barat 170045 158298 328343 70,61
Tebo 179709 169051 348760 53,98
Bungo 187677 179505 367182 78,81
Kota Jambi 300566 297537 598103 2911,47
Kota Sungai Penuh 44618 45326 89944 229,74
Propinsi Jambi 1821381 1748891 3570272 71,18

Sumber: BPS Provinsi Jambit, 2019

 

Kemisikinan

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi pada tahun 2018 mencapai 7,92 %. Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,27 dibandingkan pada tahun 2017. Dilihat dari data lima tahun terakhir, rata-rata jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi mengalami penurunan tiap tahun. Tetapi pada tahun 2015 Provinsi jambi mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin sebesar 0,47%. Berikut merupakan data presentase penduduk miskin Provinsi Jambi:

Tabel 3. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi, Tahun 2014-2018

Wilayah Presentase Penduduk Miskin(PO)
2014 2015 2016 2017 2018
Kerinci 7,43 8,16 7,48 7,45 7,07
Merangin 9,37 0,431 0,441 9,43 0,394
Sarolangun 10,17 10,29 9,33 0,39375 0,3840
Batang Hari 10,50 0,465 0,4715 10,33 10,23
Muaro Jambi 4,45 0,2104 4,30 4,37 4,05
TanjabTimur 13,55 14,17 0,553 12,58 12,38
Tanjab Barat 0,51 0,544 0,5146 11,32 11,10
Tebo 0,3118 7,12 0,31042 0,30486 6,58
Bungo 5,12 0,257 0,2771 0,2653 0,2625
Kota Jambi 0,399 0,4215 0,39375 0,392 8,49
Kota Sungai Penuh 3,33 3,43 3,13 0,1375 0,136
Propinsi Jambi 8,39 8,86 8,41 8,19 7,92

Sumber: BPS Provinsi Jambit, 2019

 

Perumahan dan Lingkungan

Kebutuhan  rumah suatu di suatu wilayah dari waktu ke waktu  semakin meningkat  seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang ada, termasuk di Provinsi Jambi. Kebutuhan akan bangunan tersebut membutuhkan lahan sehingga alih fungsi lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun  tidak dapat dihindarkan. Akibatnya, jumlah lahan produktif untuk sektor pertanian juga berkurang.

Kualitas    perumahan    yang    baik    dan   ketersediaan fasilitas perumahan yang memadai akan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Diantara indikator yang dapat digunakan untuk menilai kualitas rumah adalah material bangunan yang digunakan untuk membangun rumah untuk atap, dinding, dan lantai bangunan. Sumber air bersih dan jenis sanitasi rumah juga akan menggambarkan kualitas rumah karena hak tersbeut merupakan kebutuhan dasar rumah.

Secara  umum  di  Provinsi  Jambi,  kualitas  rumah  yang  dihuni  jika  menilik dari  aspek  jenis  lantai,  sebagian  besar  sudah  menggunakan  jenis  lantai  semen. Porsi  rumah  tinggal  dengan  jenis  lantai  ini hampirsetengahnya  dari  seluruh rumah  huni  yang  ada  di  ProvinsiJambi,  yakni 47,77%.  Sementara  untuk rumah  yang  masih  menggunakan  kayu/papan  kualitas  rendah  sebesar 0,34%  dan  yang masih menggunakan  lantai  tanah/lainnya  tinggal  1,96%.

Tabel 4 Persentase  Rumah  Tangga menurut  Jenis  Lantai  Terluas  dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Jambi Tahun2017

No Jenis Lantai Terluas Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Marmer/Granit/Keramik 43,32 20,36 27,32
2 Parket/Viil/Permadani/Ubin/Tegel/Teraso 2,3 3,17 2,91
3 Kayu/Papan Kualitas Tinggi 16,04 21,3 19,71
4 Semen/Bata Merah 37,61 52,18 47,77
5 Kayu/Papan Kualitas Rendah 0,01 0,49 0,34
6 Tanah/Lainnya 0,72 2,5 1,96
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Selain  jenis  lantai,  indikator  lain  yang  berhubungan  dengan  kualitas tempat   tinggal   adalah   atap   dan   dinding   terluas   yang   digunakan. Berdasarkan data Susenas 2017, baik di daerah perkotaan maupun yang daerah perdesaan mayoritas penduduk Provinsi Jambi menggunakan jenis atap terluas  berbahan  seng. Berikut presentase rumah tangga menurut jenis atap:

Tabel 5  Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Atap Terluas dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi JambiTahun 2017

No Jenis Atap Terluas Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Beton 3,35 1,69 2,19
2 Genteng 18,65 27,09 24,53
3 Asbes 3,61 5,83 5,16
4 Seng 74,18 64,81 67,65
5 Bambu/Kayu/Sirap 0 0,08 0,05
6 Jerami/Ijuk/Daun/Rumbia/Lainnya 0,21 0,51 0,42
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Selanjutnya   mengenai   persentase   rumah   tangga   berdasarkan   jenis dinding  terluas, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 6 Persentase  Rumah  Tangga menurut  Jenis  Dinding  Terluas dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Jambi Tahun 2017

No Jenis Dinding Terluas Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Tembok/Plesteran ayaman Bambu/Kawat 74,07 58,6 63,29
2 Kayu/Batang Kayu 25,44 39,99 35,59
3 Bambu/Anyaman Bambu/Lainnya 0,49 1,4 1,13
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Selain  kualitas  fisik,  fungsi  kenyamanan  rumah  tinggal  juga  ditentukan oleh kelengkapan fasilitas rumah seperti tersedianya sumber air bersih, fasilitas jamban  sendiri,  sanitasi  layak,  dan  sumber  penerangan  listrik. Tersedianya sumber air minum bersih juga merupakan salah satu target yang  ingin  dicapai  melalui  tujuan  pembangunan  berkelanjutan  (Sustainable Development Goals/SDGs). Berikut merupakan data ketersediaan air minum di Provinsi Jambi berdasarkan hasil Susenas 2017:

Tabel 7 Persentase  Rumah  Tangga menurut Sumber  Air  Minum   dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Jambi Tahun 2017

No Sumber Air Minum Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Air Kemasan bermerk/Air Isi Ulang 50,89 16,16 26,67
2 Leding Meteran/eceran 16,37 6,92 9,79
3 Sumur Bor/Pompa 5,13 4,33 4,57
4 Sumur Terlindungi 13,72 35,19 28,69
5 Sumur Tak Terlindungi 5,12 18,71 14,6
6 Mata Air Terlindungi/Tak Terlindungi 0,39 3,55 2,59
7 Air Permukaan 0,11 4,75 3,34
8 Air Hujan/Lainnya 8,26 10,39 9,75
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Selain  air  bersih,  salah  satu  kebutuhan  penting  dalam  tempat  tinggal adalah  tersedianya  fasilitas  sanitasi  seperti  fasilitas  buang  air  besar (jamban). Rumah  tangga  cenderung  akan  memilih  tempat  tinggal  yang  memiliki  jamban sendiri  karena  lebih  terjaga  kebersihannya.  Memiliki  fasilitas  jamban  sendiri dalam  rumah  tempat  tinggal  merefleksikan  perspektif  kesejahteraan  maupun kelestarian  lingkungan yang   lebih  baik.   Adapun   jika   menggunakan   jamban umum   atau   tidak   menggunakan   jamban,   maka   dapat   berimplikasi   pada kelestarian  lingkungan.  Semakin  banyak  masyarakat  membuang  air  besar  di sungai  atau  kebun,  maka  akan  semakin  besar  dampaknya  terhadap  sanitasi lingkungan.

Tabel 8 Persentase   Rumah   Tangga menurut   Fasilitas   Jamban      dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Jambi Tahun 2017

No Fasilitas Jamban Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Sendiri 93,64 75,56 81,03
2 Bersama 2,85 4,79 4,2
3 MCK Komunal/Umum 1,58 1,89 1,8
4 Ada, ART Tidak Menggunakan 0,01 0,25 0,18
5 Tidak Ada 1,92 17,51 12,79
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Fasilitas perumahan  lainnya  yang  cukup  penting  adalah  penerangan. Sumber  penerangan  yang  ideal  berasal  dari  listrik  (PLN  dan  bukan  PLN)  karena cahaya listrik lebih terang dibandingkan sumber penerangan lainnya. Berikut merupakan data rumah tangga menurut sumber penerangan dan daerah tempat tinggal di Provinsi Jambi tahun 2017:

Tabel 9 Persentase  Rumah  Tangga menurut  Sumber  Penerangan dan Daerah Tempat Tinggal di Provinsi Jambi Tahun 2017

No Fasilitas Penerangan Daerah Tempat Tinggal
Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan + Perdesaan (%)
1 Listrik PLN 97,88 89,86 92,29
2 Listrik Non PLN 1,71 7,39 5,67
3 Bukan Listrik 0,41 2,74 2,04
Total 100 100 100

Sumber: Susenas 2017

Jika  dilihat  berdasarkan  daerah  tempat  tinggal,  maka  masih  terdapat kesenjangan   antara   wilayah   perkotaan   dan   perdesaan.   Pengguna   sumber penerangan  listrik  non  PLN  dan  bukan  listrik  didaerah  perdesaan  lebih  besar yaitu 10 persen daripada di perkotaan yang kurang dari 3 persen.