Urbanisasi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 sekitar 56,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan angka ini diproyeksikan naik menjadi 66,6% pada 2035. Perkembangan tersebut memberikan tekanan besar terhadap lahan pertanian yang semakin berkurang. Kementerian Pertanian mencatat bahwa setiap tahun sekitar 50–70 ribu ha lahan pertanian hilang akibat alih fungsi, sementara total lahan baku pertanian Indonesia hanya tersisa sekitar 45 juta hektare. Kondisi ini menciptakan paradoks pembangunan; kota semakin berkembang pesat dan menjadi magnet bagi tenaga kerja, tetapi desa justru ditinggalkan dan lahan pertanian kian tergerus. Situasi ini menegaskan pentingnya perencanaan tata ruang yang mampu menghubungkan desa dan kota agar desa tetap produktif, sementara kota tidak kekurangan pasokan pangan. Salah satu upaya yang mulai diperkenalkan untuk menjawab tantangan ini adalah rencana kereta khusus bagi petani dan pedagang dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), yang ditujukan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian desa ke kota dengan lebih efisien dan berbiaya rendah.
Integrasi desa-kota berarti menghubungkan aktivitas pertanian di desa dengan kebutuhan konsumsi dan industri di kota. Desa berperan sebagai penghasil pangan, sementara kota menyediakan pasar, akses teknologi, serta jaringan distribusi. Dengan tata ruang yang baik, keduanya dapat saling melengkapi. Jika tidak, desa akan kehilangan produktivitasnya, sementara kota semakin bergantung pada impor pangan yang tidak berkelanjutan.
Urgensi tema ini semakin terasa ketika PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan rencana menghadirkan kereta khusus petani dan pedagang. Kereta ini didesain untuk mengangkut hasil pertanian langsung dari desa menuju pasar kota pada dini hari sebelum subuh, sehingga produk tiba lebih segar dan biaya distribusi lebih murah. Inisiatif ini menjadi simbol nyata bagaimana infrastruktur transportasi bisa menjembatani desa dan kota, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Urbanisasi yang tidak terkendali sering mengorbankan lahan pertanian. Penelitian menunjukkan bahwa setiap tahun Indonesia kehilangan ribuan hektar sawah produktif akibat alih fungsi menjadi perumahan atau kawasan industri. Jika tidak ada kebijakan perlindungan tata ruang desa, petani akan semakin sulit bertahan. Konsep pembangunan desa-kota yang terpadu memberi jalan keluar, yakni dengan menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung antara desa dan kota.
Selain itu, proses urbanisasi juga membawa dampak sosial dan budaya. Masyarakat desa yang bermigrasi ke kota perlahan kehilangan identitas agrarisnya, sementara desa tertinggal dalam pelayanan publik. Oleh karena itu, integrasi desa-kota tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial. Kehadiran kereta petani menjadi terobosan, karena tidak hanya membantu mobilitas barang, tetapi juga memberi ruang bagi petani untuk tetap hidup layak di desa tanpa harus pindah ke kota.
Dari sisi kebijakan, pemerintah perlu menindaklanjuti ide kereta petani ini dengan rencana tata ruang yang lebih komprehensif. Misalnya, menetapkan jalur distribusi pangan nasional, melindungi kawasan pertanian strategis, serta membangun fasilitas logistik terpadu di sekitar stasiun desa. Badan Informasi Geospasial (BIG) bahkan menekankan pentingnya pemetaan spasial untuk mendukung kejelasan data desa-kota agar kebijakan lebih tepat sasaran.
Dengan demikian, integrasi desa-kota melalui tata ruang yang baik bisa menjadi kunci pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kereta khusus petani dari KAI hanyalah awal. Jika diperkuat dengan kebijakan yang tepat, perlindungan lahan, serta partisipasi masyarakat desa, maka kesenjangan antara desa dan kota dapat dikurangi. Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya membangun kota yang kuat, tetapi juga desa yang mandiri dan berdaya. (AKh)
Daftar Pustaka
Badan Informasi Geospasial (2024). Strategi Pemetaan Desa-Kota untuk Perencanaan Pembangunan Nasional. BIG.go.id
DetikFinance (2025). KAI Siapkan Kereta Khusus Petani dan Pedagang. Detik.com
Gultom, F. (2023). Luntunya Sektor Pertanian di Perkotaan. Jurnal Analisa Sosiologi. UNS Journal
IDN Times (2025). Kereta Khusus Petani-Pedagang Bakal Beroperasi sebelum Subuh. IDN Times
Katadata Insight Center. (2021). Sebanyak 56,7 % Penduduk Indonesia Tinggal di Perkotaan pada 2020. Katadata.co.id. Databoks
Kementerian Pertanian. (2020, 12 Februari). Kementan: 100 Ribu ha Sawah Hilang Tiap Tahun. Medcom.id. medcom.id
Nakhoda, I. (2015). Pembangunan Desa-Kota di Indonesia. Jurnal Nakhoda. UNRI Journal
RRI. (2024). Mengkhawatirkan, per Tahun “Seratus Ribu ha Lahan” Dialihfungsikan. RRI.co.id. RRI
Wijayanti, D. E., & Priyanto, M. W. (2022). Pengaruh Urbanisasi terhadap Lahan Garapan di Indonesia. AGRISCIENCE. ResearchGate
