Pelibatan seluruh lapisan masyarakat sebagai subyek utama pembangunan menjadi penting untuk diperhatikan agar memberikan manfaat langsung yang lebih besar. Selaras dengan hal tersebut, pembangunan juga perlu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyelesaian permasalahan umum di masyarakat, seperti kemiskinan. Oleh karenanya, pendekatan pembangunan inklusif lahir dari komitmen untuk mendorong pertumbuhuan melalui pelibatan masyarakat dengan tujuan pemerataan pembangunan tanpa meninggalkan kelompok marjinal.

Pada dasarnya, pendekatan pembangunan inklusif telah diupayakan oleh pemerintah di Indonesia, salah satunya dalam bidang perumahan dan permukiman. Penyediaan rumah layak huni bagi kelompok masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah sebagai salah satu target utama dalam capaian Sustainable Development Goals, yaitu kota dan komunitas yang berkelanjutan, merupakan contoh nyata dari penyelenggaraan pembangunan inklusif di Indonesia. Tidak terlepas dari hal tersebut, fokus pembangunan melalui penyediaan rumah layak huni bagi penyandang disabilitas juga merupakan langkah konkret dari pemerintah untuk mengupayakan pemerataan pembangunan bagi seluruh lapisan masyarakat. Terlebih lagi, diketahui bahwa sebagian besar penyandang disabilitas memiliki kerentanan tinggi untuk termarjinalkan dalam pembangunan, seperti kesempatan kerja dan akses terhadap fasilitas umum yang lebih terbatas, sehingga cenderung memiliki kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan yang rendah.

 

Pada awal tahun 2021, sebanyak 15 rumah khusus tipe 28 dilengkapi Prasarana Sarana Utilitas (PSU) yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas telah berhasil dibangun di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan melalui alokasi dana APBN. Rumah khusus tersebut didesain sedemikian rupa untuk memudahkan penyandang disabilitas tunanetra, seperti adanya guiding block atau garis kuning petunjuk jalan, ramp atau jalur pengganti anak tangga, serta pagar pembatas sekaligus sebagai tempat berpengangan ketika penghuni hendak memasuki rumah. Setelah berhasil dibangun, rumah khusus tersebut akan ditempati oleh masyarakat dengan domisili Kota Banjarbaru dan tergabung dalam keanggotaan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Di samping keberhasilan tersebut, diketahui pula bahwa pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Kementerian Sosial RI juga merencanakan pembangunan rumah khusus dalam bentuk rumah susun (rusun) pada tahun 2022 di kawasan Centra UMKM Khusus Penyandang Disabilitas, Manahan.

Tidak terlepas dari pembangunan fisik yang telah dilaksanakan maupun rencana pada masa mendatang terkait penyediaan rumah khusus bagi penyandang disabilitas, dalam pendekatan pembangunan inklusif, skema peningkatan kondisi perekonomian dari penghuni juga perlu diupayakan sebagai tindak lanjut program sekaligus memberikan kemudahan dalam mempertahankan keberlanjutan pengelolaan pasca pembangunan. Namun, upaya tindak lanjut tersebut seringkali tidak dapat secara maksimal dilakukan, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan kualitas lingkungan permukiman akibat keterbatasan finansial untuk perawatan. Oleh karena itu, keterampilan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas perlu dilatih agar dapat menjalankan kegiatan ekonomi yang aktif dan produktif. Dengan demikian, permasalahan terkait sulitnya mengakses lapangan kerja maupun tingkat kesejahteraan rendah juga dapat terselesaikan. (ADS)

 

 

 

Referensi :

Warsilah, Henny. 2015. Pembangunan Inklusif Sebagai Upaya Mereduksi Ekslusi Sosial Perkotaan: Kasus Kelompok Marjinal di Kampung Semanggi, Solo, Jawa Tengah. Jurnal Masyarakat & Budaya. Vol.17, No.2, hlm. 207-231.

M Ihsan. 2021. Kemensos Bakal Bangun Rusun di Solo untuk Penyandang Disabilitas. Website radarsolo.jawapos.com (diakses pada 9 September 2021). https://radarsolo.jawapos.com/daerah/solo/01/09/2021/kemensos-bakal-bangun-rusun-di-solo-untuk-penyandang-disabilitas/

Pramesti, Fitri A. 2021. KemenPUPR Bangun 15 Rumah Khusus untuk Penyandang Disabilitas di Kalsel. Website suara.com (diakses pada  September 2021). https://www.suara.com/news/2021/03/06/141940/kemenpupr-bangun-15-rumah-khusus-untuk-penyandang-disabilitas-di-kalsel