Konsep Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010, pada saat Kementerian Pendidikan  dan  Penelitian  Federal Jerman  (German  Federal Ministry  of  Education  and Research)  mendesak  untuk  mengidentifikasi  tren teknologi  tinggi  dan  dampaknya  terhadap masyarakat. Adanya Perkembangan industri 4.0 saat ini didukung pula dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat, yang mana hal ini memungkinkan terjadinya otomatisasi di berbagai aspek bidang kehidupan tak terkecuali dalam bidang perencanaan kota. Hal ini banyak mempermudah ragam kegiatan dan juga mengurangi waktu dan pengeluaran dalam setiap program kegiatan.

Revolusi industri 4.0 adalah babak baru perindustrian yang lebih banyak memberi peran kepada teknologi virtual dan bentuk-bentuk perindustrian yang kian canggih. Tantangan revolusi industri 4.0 harus direspon cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan sehingga mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global. Tantangan  terbesar  yang  sedang  dihadapi  dunia  saat  ini,  adalah  bagaimana  membentuk revolusi   Industri  4.0,  dalam  menciptakan  teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dengan  cara  yang  fundamental  yang  dapat  merubah perilaku  manusia  (Tjandrawinata,  2016).

Di Indonesia, salah   satu   strategi   yang   dilakukan   oleh   pemerintah   dalam menanggapi industri 4.0 ini adalah dengan meningkatkan komersialisasi   teknologi   yang   tepat   guna  dengan   cara kolaborasi antara industri, pemerintah, dan akademisi mulai  gencar  dilakukan, termasuk   juga dengan meningkatkan dana investasi untuk melakukan riset di institusi  pendidikan. Menurut Kementerian  Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dana riset yang dialokasikan pada 2018 meningkat menjadi Rp 2,45 triliun, dimana tahun sebelumnya adalah Rp 2,1 triliun. Dana riset sebesar  tersebut  akan  difokuskan  pada  lima  program  khusus  yaitu  bidang  energi, pangan kesehatan,  kemaritiman,  dan  pariwisata.  Kelima bidang tersebut merupakan bagian dari sepuluh rencana induk riset Indonesia pada 2015-2045. Nantinya hasil dari Penelitan ini akan menghasilkan teknologi tepat guna yang berdaya saing untuk meningkatkan ekonomi negara dan daerah. Hal ini juga akan melahirkan ekosistem baru dalam pengembangan wilayah dan kota yang bernama Science dan Technopark. Merujuk  pada  Kementerian  Riset,  Teknologi, dan  Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, sciencepark atau technopark didefinisikan sebagai suatu kawasan terpadu yang menggabungkan  dunia industri, perguruan tinggi, pusat riset dan pelatihan, kewirausahaan,  perbankan, pemerintah pusat dan daerah dalam satu lokasi yang memungkinkan  aliran  informasi  dan  teknologi  secara  lebih  efisien  dan  cepat.  Bertujuan sebagai  wahana  hilirisasi  IPTEK  untuk  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  daerah  melalui penyebaran pusat-pusat pertumbuhan dalam rangka pemerataan antar wilayah. Pengembangan science dan technopark dapat   mendukung   pemerintah   dalam   menghadapi tantangan  revolusi  Industri  4.0,  dimana  science dan technopark dapat  menjadi  ekosistem ataupun infrastruktur untuk riset dan pengembangan IPTEK yang tepat guna karena didukung dengan  peran  serta  seluruh  pemangku  kepentingan  yang  terkait  yaitu  industri,pemerintah, akademisi, dan juga komunitas. Dan bahkan Bappenas sudah mulai mengembangkan Pedoman Perencanaan science dan technopark tahun  2015-2019  di  bawah  Deputi  Bidang Ekonomi. Bagaimana cita-cita pendirian science dan technopark dimulai dari dokumen negara Nawa Cita.

Hal ini tentu saja akan berdampak pada Perencanaan Kota di Indonesia, yang mana secara sederhana telah dijelaskan bahwa Perencanaan Kota merupakan Perencanaan yang melingkupi seluruh bidang aspek yang diharapkan dapat menciptakan sistem perkotaan yang sinergis dan dapat mewujudkan cita-cita kota tersebut. Dalam Era Industri 4.0, sudah banyak aspek dalam perencanaan kota yang mengalami sedikit perubahan dalam melakukan penyusunan dan kajian terhadap perkotaan itu sendiri. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, konsep science dan technopark cukup penting dalam menghadapi perubahan industri 4.0. Sebagai bukti dari pentingnya pengembangan technopark adalah kontribusi besar technopark di AS dalam pengembangan ekonomi. Technopark ini menjadi wadah inkubator bisnis berbasis teknologi yang terus mengalami peningkatan. Di AS sendiri technopark terus mengalami penambahan serta menawarkan banyak kemudahan, mulai dari tempat  produksi  dan  beberapa  layanan  yang  menjanjikan  bagi  pengusaha,  serta  membantu  menjalin  kontak  dengan  universitas  lokal  atau  pusat  penelitian,  demikian juga dengan bantuan keuangan. Secara sederhana, dengan adanya technopark akan sangat membantu bagi para pengusaha baik yang baru merintis maupun memperbesar skala usahanya menjadi lebih mudah dan pastinya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.

Di Indonesia, konsep perencanaan dan pengembangan kota berbasis science dan technopark masih jarang ditemukan. Namun beberapa tahun belakangan, banyak muncul isu-isu pengembangan wilayah berbasis technopark di beberapa wilayah di Indonesia. Dengan adanya perencanan kota berbasis science dan technopark diharapkan dapat memberikan dampak positif lebih bagi perkembangan indonesia. Dari sisi ekonomi tentunya dapat mempermudah masyarakat untuk berwirausaha dan tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Konsep pengembangan ini harus terus didukung dan terus dikembangkan agar negara dapat berkembang dan tidak tertinggal dibanding negara lain yang mana saat ini pengembangan kota era industri 4.0 sedang gencar dilakukan oleh berbagai negara. Dibutuhkan perencanaan kota yang matang dan kajian lebih mendalam agar dalam perencanaan dan pengembangan kota di Indonesia ke depannya dapat tepat guna dan meningkatkan daya saing daerah-daerah  di Indonesia sehingga tidak tertinggal dengan negara tetangga. (MFAH)