Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan telah memperparah intensitas dan frekuensi bencana alam di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 2.107 bencana alam di seluruh negeri. Sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir (1.099 kejadian), cuaca ekstrem (461), dan kebakaran hutan dan lahan (349). Kota-kota besar yang mengalami tekanan pembangunan dan minim ruang hijau menjadi wilayah paling rentan. Fenomena ini menegaskan bahwa ancaman bencana bukan lagi hal sporadis, melainkan bagian dari krisis sistemik yang harus dihadapi dengan pendekatan jangka panjang dan berbasis ekosistem.
Meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai, dan gelombang panas. Di kota besar, efek ini diperparah oleh fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island). Selain itu, alih fungsi lahan hijau menjadi permukiman dan area komersial meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor. Pengurangan vegetasi memperlemah daya serap air dan mempercepat genangan, sehingga meningkatkan kerentanan perkotaan terhadap bencana alam.
Bencana alam yang melanda kota-kota besar membawa dampak serius secara ekonomi dan sosial. Dampaknya antara lain meliputi penurunan kualitas udara dan air akibat polusi kendaraan dan industri, peningkatan suhu kota akibat urban heat island, kerusakan infrastruktur dan ekonomi akibat banjir dan tanah longsor, serta menurunnya ketahanan masyarakat terhadap bencana. Kota yang tidak siap menghadapi bencana akan mengalami kesulitan dalam proses pemulihan.
Untuk meningkatkan ketahanan perkotaan terhadap bencana, diperlukan langkah-langkah strategis. Reforestasi dan pengelolaan ruang terbuka hijau menjadi penting dalam meningkatkan daya serap air dan menurunkan suhu perkotaan. Selain itu, perencanaan kota berbasis mitigasi bencana harus dilakukan agar risiko dapat diminimalisir. Transisi energi ramah lingkungan dengan memanfaatkan energi terbarukan juga diperlukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Terakhir, edukasi masyarakat tentang adaptasi perubahan iklim harus ditingkatkan agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana.
Bencana yang melanda sepanjang 2024 menjadi peringatan keras bahwa kota-kota besar di Indonesia belum memiliki ketahanan yang memadai terhadap krisis iklim. Mitigasi dan adaptasi harus menjadi fondasi utama dalam perencanaan pembangunan, bukan sekadar respons sesaat. Diperlukan kebijakan yang tegas, inovasi teknologi yang relevan, serta perubahan perilaku kolektif masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan warga kota akan menentukan seberapa siap kota-kota Indonesia dalam menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti. Ketahanan perkotaan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal bangkit dan berkembang di tengah tantangan iklim yang terus berubah. (ASa)
Sumber :
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2024. Data Statistik Bencana 2024.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 2024. Laporan Tahunan Perubahan Iklim.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2024. Analisis Cuaca Ekstrem dan Dampaknya.
