Kota-kota besar di Indonesia seringkali dihadapkan pada permasalahan meningkatnya suhu udara, terutama di kawasan pusat kota yang padat bangunan. Berdasarkan laporan BMKG, sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung termasuk dalam 20% kota dengan suhu permukaan tanah atau Land Surface Temperature (LST) terbesar. Fenomena kenaikan suhu di wilayah perkotaan tersebut biasa dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). Seiring dengan pesatnya urbanisasi, UHI menjadi isu penting dalam tata kota karena berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat, kesehatan, hingga konsumsi energi di perkotaan.

 

Apa itu Urban Heat Island?

BMKG mengartikan UHI sebagai fenomena alam berupa tingginya temperatur daerah perkotaan dibandingkan pedesaan. Dalam fenomena ini, peningkatan suhu perkotaan bervariasi tergantung pada tutupan lahannya. Penyebab utama dari UHI adalah modifikasi permukaan tanah melalui pengembangan kota yang menggunakan material yang menyimpan panas seperti aspal dan beton. Pembangunan jalan, bangunan, dan infrastruktur lain yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan peningkatan populasi manusia menyebabkan pengurangan vegetasi. Akibatnya, permukaan tersebut lebih banyak menyerap panas dan memantulkannya sehingga suhu permukaan menjadi naik (Khomarudin, 2004). Studi membuktikan, perbedaan suhu udara antara daerah yang terdampak efek UHI dan daerah yang bervegetasi tinggi dapat mencapai 6°C. Selain itu, penggunaan energi juga turut berkontribusi dalam peningkatan suhu perkotaan.

 

Dampak Negatif Urban Heat Island

UHI menimbulkan berbagai efek negatif bagi kehidupan perkotaan. Peningkatan suhu memicu lonjakan konsumsi energi akibat peningkatan penggunaan pendingin ruangan (AC) yang pada akhirnya akan meningkatkan penggunaan listrik dan bahan bakar fosil, sehingga memperburuk pemanasan global, diantaranya seperti penurunan kualitas air, peningkatan konsumsi listrik. Selain itu, pada musim kemarau, UHI dapat mempercepat pembentukan kabut berbahaya seperti prekursor ozon berupa nitrous oxides (NOx) dan Volatile Organic Compounds (VOCs) yang bereaksi secara fotokimia menghasilkan ozon di permukaan. Hal ini berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan memicu penyakit seperti heat stroke, dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi pasien dengan penyakit kronis. Pada beberapa kasus, suhu tinggi akibat fenomena ini dapat menyebabkan gelombang panas yang berujung pada kematian ratusan orang, terutama pada musim panas. Tidak hanya itu, kualitas udara yang semakin menurun dan suhu panas ekstrem juga berpengaruh pada ekosistem perkotaan, mulai dari terganggunya keseimbangan flora dan fauna hingga perubahan ekosistem secara keseluruhan.

 

Upaya Penanggulangan Dampak Urban Heat Island

Sebagai upaya penanggulangan dampak dari terjadinya fenomena UHI, berbagai lembaga pemerhati lingkungan seperti The United Nations Environment Programme (UNEP) memberikan beberapa solusi penyelamatan. Solusi tersebut diantaranya yaitu penggunaan green roof dan green wall, penggunaan cool roof, peningkatan ruang hijau perkotaan, serta penggunaan material ramah lingkungan seperti paving berpori dan cool pavement. Selain itu, penghematan energi juga dapat dilakukan melalui pengembangan transportasi ramah lingkungan dan pengembangan konsep Smart City dengan teknologi energi yang efisien. (ERA)

 

 

 

Referensi:

Al Mukmin, S. A., Wijaya, A. P., & Sukmono, A. (2016). ANALISISPENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP DISTRIBUSI SUHU PERMUKAAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN FENOMENA URBAN HEAT ISLAND. Jurnal Geodesi Undip, 224-233.

Environesia Global Saraya. (2025). Urban Heat Island: Penyebab dan Solusi untuk Kota Padat. Diakses dari https://environesia.co.id/blog/Urban-Heat-Island-Penyebab-dan-Solusi-untuk-Kota-Padat

Guntara. (2016). Pengertian Fenomena Urban Heat Island (UHI). Diakses dari https://www.guntara.com/2016/10/pengertian-fenomena-urban-heat-island.html

Hardiyanti, T. (2012, September 5). URBAN HEAT ISLAND DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM. Dipetik Juli 13, 2020, dari I’ENVIROMENTALIS’M: http://tutut-hardiyanti.blogspot.com/2012/09/urban-heat-island-dan-dampaknya.html

Herlambang, D. (2024). Cuaca di Kota Semakin Panas, BMKG Ajak Generasi Muda Mitigasi Urban Heat Island. Diakses dari https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/cuaca-di-kota-semakin-panas-bmkg-ajak-generasi-muda-mitigasi-urban-heat-island

Kreasi Handal Selaras. (2020). Urban Heat Island (UHI). Diakses dari https://www.handalselaras.com/urban-heat-island-uhi/

MARU, R. (2015). Urban Heat Island dan Upaya Penanganannya. Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan, 84-94.

Salsabila, A. (2025). Fenomena Urban Heat Island, Cuaca Panas Ekstrem di Perkotaan. Diakses dari https://geosains.id/fenomena-urban-heat-island-cuaca-panas-ekstrem-di-perkotaan/

Wibawana, W. A. (2024). Mengenal Apa Itu Urban Heat Island (UHI) dan Penyebabnya. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-7413031/mengenal-apa-itu-urban-heat-island-uhi-dan-penyebabnya