Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan berita seorang balita yang tubuhnya terinfeksi cacing. Banyak orang terkejut, karena penyakit ini dianggap sudah jarang terjadi. Padahal, kasus infeksi cacing bukanlah hal baru, melainkan sudah lama menghantui masyarakat kita, terutama di kalangan anak-anak.
Infeksi Cacing Lebih Rentan Terjadi dari yang Kita Bayangkan
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi kecacingan di Indonesia masih sangat tinggi, berkisar 2,5% hingga 62%, dengan rata-rata yang terinfeksi ada pada anak SD mencapai angka 28,12% (CNBC Indonesia). Data ini juga mencatat bahwa ada 27 kota/kabupaten di Indonesia dengan prevalensi kecacingan di atas 10%.

Artinya, cacingan bukanlah masalah sepele yang hanya terjadi di sebagian kecil masyarakat saja. Cacing begitu nyata, dekat, dan bisa menyerang siapa saja, terlebih kalangan anak-anak yang lebih rentan dan belum paham akan pola hidup sehat seperti apa.
Dampak infeksi cacing lebih dari hanya sekadar sakit perut, berita buruknya infeksi cacing dapat menurunkan fungsi organ tubuh, memicu anemia, menyebabkan gizi buruk, hingga berkontribusi pada stunting. Akibat jangka panjang yang diderita lebih serius: anak akan kesulitan belajar, produktivitas menurun, akhirnya kualitas generasi penerus bangsa ikut terancam.
Apakah Kebersihan Diri Sudah Cukup?
Sebagian besar masyarakat percaya, menjaga kebersihan diri sudah cukup untuk mencegah cacingan: rajin cuci tangan, makan makanan yang bersih, atau menjaga tubuh tetap terawat. Pandangan ini benar, tetapi belum cukup sampai sini saja.
Semua usaha itu akan sia-sia jika lingkungan tempat kita tinggal masih tercemar. Bayangkan, cuci tangan dengan air yang ternyata sudah terkontaminasi kotoran, atau anak-anak bermain tanpa alas kaki di tanah yang basah oleh limbah. Di sinilah faktor sanitasi pemukiman memegang peran krusial.
Sanitasi Lingkungan: Pertahanan yang Sering Terlupakan
Infeksi cacing erat kaitannya dengan kondisi sanitasi lingkungan. Ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan:
- Air bersih: menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 43 Tahun 2014, air yang memenuhi syarat kesehatan harus tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Jika sumber air tercemar, bisa menjadi jalur utama penularan cacing. Meski data BPS (2024) mencatat bahwa sekitar 8 dari 10 rumah tangga di Indonesia sudah memiliki akses sanitasi layak, masih ada jutaan keluarga lain yang hidup dengan air dan fasilitas yang belum memenuhi standar kesehatan.

- Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL): harus tertutup, tidak mencemari air permukaan, dan tidak menimbulkan bau. SPAL yang bocor menciptakan tanah lembab, menjadi media ideal tempat cacing bertelur.
- Jamban sehat: tinja harus dibuang pada tempat yang aman, tidak mengotori air sekitar, bebas dari serangga, dan mudah digunakan. Sayangnya, data BPS (2024) menunjukkan sekitar 3.500 atau 1 dari 25 desa/kelurahan di Indonesia masih dominan tidak menggunakan jamban layak. Bahkan, di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Pegunungan, tingkat pemakaian “selain jamban” sebagai tempat pembuangan tinja masih sangat tinggi.
- Pengelolaan sampah: sampah yang dibuang sembarangan bisa menjadi sarang lalat, salah satu vektor penyakit termasuk cacing. Data dari Databoks (2021) menunjukkan bahwa lebih dari 50% rumah tangga di Indonesia masih membuang air limbah ke selokan atau sungai. Kondisi ini membuka jalan lebar bagi penularan infeksi cacing.

Obat Cacing Bukan Solusi Utama
Kasus ini menjadi alarm pengingat bagi kita, bahwa masalah kesehatan anak tidak bisa diselesaikan hanya dengan obat cacing massal semata. Tanpa memperbaiki sanitasi, infeksi cacing akan terus berulang, diwariskan ke generasi berikutnya.
Sanitasi adalah tanggung jawab kita bersama. Keluarga bisa menjaga kebersihan diri, tapi pemerintah dan komunitas harus memastikan lingkungan sehat: air bersih tersedia, jamban layak digunakan, limbah dan sampah dikelola dengan benar.
Sanitasi layak adalah investasi jangka panjang, agar setiap generasi dapat tumbuh sehat, produktif, cerdas, dan mampu membanggakan bangsa. (KLI)
Sumber
Badan Pusat Statistik. (2024). Banyaknya Desa/Kelurahan Menurut Penggunaan Fasilitas Tempat Buang Air Besar Sebagian Besar Keluarga (Desa). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTEwNCMy/banyaknya-desa-kelurahan-menurut-penggunaan-fasilitas-tempat-buang-air-besar-sebagian-besar-keluarga.html
Badan Pusat Statistik. (2024, Desember 9). Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sanitasi Layak Menurut Provinsi dan Klasifikasi Desa (Persen). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/ODM0IzI=/persentase-rumah-tangga-menurut-provinsi–tipe-daerah-dan-sanitasi-layak.html
borneonews.co.id. (2023, Desember 26). Lingkungan Kotor Rawan Hepatitis A. borneonews.co.id. https://www.borneonews.co.id/berita/325313-lingkungan-kotor-rawan-hepatitis-a
CNBC Indonesia. (2025, Agustus 20). Silent Killer: 1,5 Miliar Warga Dunia Terinfeksi Cacingan, Gimana RI? CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/research/20250820131301-128-659690/silent-killer-15-miliar-warga-dunia-terinfeksi-cacingan-gimana-ri
databoks.id. (2021, Agustus 23). Lebih dari 50% Rumah Tangga di Indonesia Membuang Air Limbah ke Selokan hingga Sungai. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/6e15934bf4f6148/lebih-dari-50-rumah-tangga-di-indonesia-membuang-air-limbah-ke-selokan-hingga-sungai
dataindonesia.id. (2024, April 5). Data Persentase Rumah Tangga dengan Akses Sanitasi Layak Menurut Provinsi Indonesia pada 2023. dataindonesia.id. https://dataindonesia.id/kesehatan/detail/data-persentase-rumah-tangga-dengan-akses-sanitasi-layak-menurut-provinsi-indonesia-pada-2023
