Aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan telah menyebabkan peningkatan suhu bumi. Konsekuensinya, terjadi gelombang panas yang lebih intens serta meningkatnya permukaan air laut. Dalam puluhan tahun terakhir, suhu bumi rata-rata lebih hangat sekitar 1,2C dibandingkan pada akhir abad ke-19. Peningkatan suhu ini didorong oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dan didorong oleh fenomena cuaca El Nino.

Bangunan yang tidak berkelanjutan (unsustainable) memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim. Hal ini terjadi karena proses pembangunan dan penggunaan bangunan tersebut yang seringkali melibatkan emisi gas rumah kaca yang tinggi, konsumsi energi yang besar, dan penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.

Peran manusia sangat penting dalam menekan dan memitigasi perubahan iklim di dunia. Salah satu hal yang dapat dilakukan manusia adalah dengan menggalakan keberadaan bangunan hijau. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021, green building (bangunan hijau) adalah bangunan gedung yang memenuhi Standar Teknis Bangunan Gedung dan memiliki kinerja terukur secara signifikan dalam penghematan energi, air, dan sumber daya lainnya melalui penerapan prinsip bangunan gedung hijau sesuai dengan fungsi dan klasifikasi dalam setiap tahapan penyelenggaraannya.

Aspek-Aspek Penting dalam Pembangunan Green Building

  1. Penggunaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan: Pemilihan material merupakan aspek penting dalam perencanaan setiap bangunan. Material bangunan dipilih dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam. Misalnya, menggunakan bahan daur ulang, bahan lokal, dan bahan ramah lingkungan.
  2. Efisiensi Energi: Green building dirancang untuk mengurangi konsumsi energi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan. Mendesain bangunan dengan banyak bukaan memungkinkan cross ventilation, menekan penggunaan AC, dan memasukkan cukup cahaya matahari sehingga dapat mengurangi penggunaan lampu di siang hari.
  3. Pengelolaan Air: Green building mengintegrasikan sistem pengelolaan air hujan, penghematan air, dan pengolahan air limbah untuk mengurangi penggunaan air bersih dan mencegah pencemaran lingkungan. Rainwater harvesting adalah sebuah cara mengelola air hujan dengan cara menyimpannya, lalu mendaur ulang air hujan tersebut agar bisa digunakan untuk beberapa kebutuhan tertentu, seperti toilet-flush dan menyiram tanaman.
  4. Kualitas Udara dalam Ruangan: Sistem ventilasi dan filtrasi udara yang baik diterapkan untuk memastikan kualitas udara dalam ruangan yang sehat dan bersih, serta mengurangi paparan terhadap polusi udara.
  5. Penggunaan Lahan yang Berkelanjutan: Penataan bangunan harus mempertimbangkan efisiensi lahan, pelestarian habitat alami, dan penghijauan kawasan sekitar bangunan. Penghijauan di sekitar bangunan memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi suhu udara, menyerap karbon dioksida, dan meningkatkan estetika. Menanam tanaman lokal yang tahan terhadap kondisi iklim setempat, membuat taman atap atau dinding hijau dapat meningkatkan luas area hijau.
  6. Keselamatan dan Kesehatan Penghuni: Desain bangunan harus memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan penghuni, seperti pencahayaan alami yang memadai, sirkulasi udara yang baik, dan ruang terbuka yang nyaman.

Penerapan aspek aspek penting dalam pembangunan green building bertujuan untuk mewujudkan bangunan yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan mampu mengurangi jejak karbon sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuninya.

Di era ini, penerapan konsep green building menjadi semakin krusial karena perubahan iklim yang semakin nyata. Green building memiliki peran penting dalam menekan emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Bangunan hijau ini menerapkan teknologi dan desain yang dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin, meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam seperti banjir, serta menggunakan sumber daya secara efisien, termasuk energi, air, dan bahan konstruksi. Efisiensi ini membantu mengurangi konsumsi energi dan memperpanjang umur material, sehingga mengurangi jejak ekologis serta mendukung pelestarian sumber daya alam.

Mendorong penerapan green building adalah salah satu langkah efektif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tindakan kecil yang kita lakukan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi ekosistem. Pada akhirnya, seluruh aktivitas manusia perlu dilakukan dengan menerapkan prinsip keberlanjutan, menjunjung tinggi pelestarian alam sebagai upaya pemulihan terhadap kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Dengan penerapan green building di lingkungan kita, akan mendukung perlawanan terhadap perubahan iklim yang sering terjadi saat ini. (WFD)

 

 

Sumber:

bbc.com (2024). Enam hal yang perlu diketahui tentang suhu Bumi yang semakin panas. bbc.com. Available at: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c72pylwg09wo (Accessed: 8 Mei 2025).

djkn.kemenkeu.go.id (2024). Green Building Series: Konsep Green Building. djkn.kemenkeu.go.id. Available at: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-padang/baca-artikel/16929/Green-Building-Series-Konsep-Green-Building.html (Accessed: 7 Mei 2025).

Khalisa, Salma. (2024). Green Building: Konsep Bangunan Hijau Berkelanjutan. impactlabs.id. Available at: https://impactlabs.id/2024/11/25/green-building-konsep-bangunan-hijau-berkelanjutan/ (Accessed: 7 Mei 2025).