Kabupaten Manggarai adalah kabupaten induk yang telah mengalami dua kali pemekaran wilayah. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.096,44 km2 yang terdiri dari daratan Pulau Flores dan pulau kecil yaitu Pulau Molas. Secara astronomis, Kabupaten Manggarai terletak di antara 8º 14’ 27,32”- 8º 54’ 57,17” Lintang Selatan dan 120º 13’ 41,34”-120º 32’ 47,22” Bujur Timur. Batas-batas kabupaten ini adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Manggarai Barat
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Sawu, dan
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Manggarai Timur.

Secara administratif, Kabupaten Manggarai terbagi menjadi 12 Kecamatan, 132 Desa dan 17 Kelurahan, dengan pusat pemerintahan di Kota Ruteng, Kecamatan Langke Rembong.

 

Luas Tinggi Wilayah

Gambaran umum 12 kecamatan yang berada di Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.

Ibukota Kecamatan, Luas, dan Ketinggian Kabupaten Manggarai Per Kecamatan 2020

Kecamatan Ibukota Kecamatan Luas Wilayah Persentase Wilayah Ketinggian
[1] [2] [3] [4] [5]
Satar Mese Iteng 298,80 14,25% 84,00
Satar Mese barat Narang 199,93 9,54% 187,00
Satar Mese Utara Langke Majok 179,00 8,54% 771,00
Langke Rembong Ruteng 60,54 2,89% 1.155,00
Ruteng Cancar 136,26 6,50% 951,00
Wae Rii Timung 129,89 6,20% 864,00
Lelak Rejeng 64,64 3,08% 986,00
Rahong Utara Purang 131,95 6,29% 549,00
Cibal Pagal 139,94 6,68% 923,00
Cibal Barat Golo Woi 118,95 5,67% 228,30
Reok Reo 236,80 11,30% 12,00
Reok Barat Sambi 399,74 19,07% 601,50
Kabupaten Manggarai 2.096,44 100%  

Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021 (diolah)

Jarak antar kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Manggarai (Ruteng) dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 1 Jarak Antar Kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Manggarai
Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021. (Diolah)

 

Kondisi Fisik

  • Topografi

Kabupaten Manggarai dilihat dari topografinya merupakan daerah dataran tinggi yang didominasi oleh bentuk permukaan daratan yang bergelombang dimana 85,4% wilayahnya masih dalam kemiringan tanah >15%.

                                         Tabel 2.

Kemiringan Tanah Wilayah di Kabupaten Manggarai

No Kemiringan Tanah (%) Luas (Ha) Persentase (%)
1 0 – 2 % 5.621 3,36%
2 2 – 15 % 18.732 11,22%
3 15 – 40 % 52.986 31,73%
4 >40 % 89.603 53,67%
Total 166.942  

Sumber: : RPIJM Bidang Cipta Karya Kabupaten Manggarai Tahun 2017-2021

 

  • Geologi dan Morfologi

Jenis tanah di wilayah Kabupaten Manggarai umumnya terdiri dari jenis mediteran, litosol, dan latosol, sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3.

Jenis Tanah di Kabupaten Manggarai

No Jenis Tanah Luas (Ha) Persentase (%)
1 Mediteran 60.984 36,53%
2 Litosol 52.601 31,50%
3 Latosol 53.357 31,96%
Total 166.942  

Sumber : RPIJM Bidang Cipta Karya Kabupaten Manggarai Tahun 2017-2021

 

Berdasarkan kondisi geologi dan kondisi fisik permukaan, Kabupaten Manggarai merupakan wilayah pegunungan dan perbukitan, oleh karena itu secara umum wilayah Kabupaten Manggarai termasuk kawasan rawan bencana, terutama bencana gempa bumi dan longsor.

 

  • Klimatologi

Jika dilihat dari sisi iklim, rata-rata suhu udara di Kabupaten Manggarai tahun 2020 berkisar antara 20,3˚C sampai dengan 22˚C dengan kelembaban udara rata-rata tahunan 22,6. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Manggarai pada bulan Desember sebanyak 597,80 mm dan yang terendah di bulan Juli yaitu 63,8 mm dengan total hari hujan sebanyak 203 hari.

 

  • Kerawanan Bencana

Berdasarkan data BPS, bencana alam yang tercatat dalam kurun waktu 2018-2020 adalah banjir, gempa bumi, dan tanah longsor. Berdasarkan RTRW Kabupaten Manggarai 2012-2032, perincian daerah rawan bencana adalah sebagai berikut.

Tabel 4.

Kawasan Rawan Bencana di Kabupaten Manggarai

No Kawasan Lokasi
1 Kawasan Rawan Tanah Longsor Tersebar di semua kecamatan
2 Kawasan Rawan Gelombang Pasang terdapat di Kecamatan Reok, Kecamatan Satarmese dan Kecamatan Satarmese Barat.
3 Kawasan Rawan Banjir Kecamatan Ruteng, Kecamatan Reok, Kecamatan Lelak, Kecamatan Rahong Utara, Kecamatan Wae Ri’i, Kecamatan Satarmese dan Kecamatan Satarmese Barat.
4 Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi a.       Kawasan rawan letusan gunung berapi, terdapat di Kecamatan Wae Ri’i, Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Satar Mese;

b.       Kawasan rawan gempa bumi, terdapat di semua Kecamatan;

c.       Kawasan rawan gerakan tanah, terdapat di semua Kecamatan;

d.       Kawasan rawan tsunami, terdapat di Kecamatan Reok, Kecamatan Satar Mese dan Kecamatan Satar Mese Barat;

e.       Kawasan rawan abrasi, terdapat di Kecamatan Reok, Kecamatan Satar Mese dan Kecamatan Satar Mese Barat;

f.        Kawasan rawan bahaya gas beracun, terdapat di Kecamatan Satar Mese dan Kecamatan Wae Ri’i.

Sumber : RTRW Kabupaten Manggarai Tahun 2012-2032

Demografi

  • Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Manggarai pada tahun 2020 adalah sebanyak 312.855 Jiwa dengan RJK (Rasio jenis kelamin) sebesar 99,96. Jumlah penduduk tersebut mengalami penurunan sebesar 7,51% dari tahun 2019. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2010-2020 adalah sebesar 1,09 %. Kabupaten Manggarai memiliki kepadatan penduduk rendah yaitu 149 jiwa/Km2.

Tabel 5.

Jumlah Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Manggarai

No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)
2019 2020
1 Satar Mese 37.418 33.917
2 Satar Mese Barat 20.774 18.944
3 Satar Mese Utara 16.465 14.854
4 Langke Rembong 67.355 65.626
5 Ruteng 45.422 41.533
6 Wae Rii 31.066 28.788
7 Lelak 13.331 12.111
8 Rahong Utara 24.877 22.180
9 Cibal 28.288 25.569
10 Cibal Barat 16.469 15.111
11 Reok 20.847 19.291
12 Reok Barat 15.952 14.931
Jumlah 338.264 312.855

Sumber : BPS Kabupaten dalam Angka Kabupaten Manggarai, 2021 dan BPS Kecamatan dalam Angka Kabupaten Manggarai, 2020 (Diolah)

 

  • Jumlah Rumah Tangga

Total jumlah rumah tangga di Kabupaten Manggarai pada tahun 2019 adalah 98.932 KK, dengan jumlah rumah tangga terbanyak ada di Kecamatan Rangke Lembong, yaitu sebanyak 21.982 KK. Detail persebaran jumlah rumah tangga per kecamatan di Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

      Tabel 6.

Jumlah Rumah Tangga per Kecamatan di Kabupaten Manggarai, 2019

No Kecamatan Jumlah Rumah Tangga (KK)
1 Satar Mese 10.345
2 Satar Mese barat 5.889
3 Satar Mese Utara 4.839
4 Langke Rembong 21.982
5 Ruteng 13.218
6 Wae Rii 8.375
7 Lelak 3.771
8 Rahong Utara 7.189
9 Cibal 8.270
10 Cibal Barat 4.318
11 Reok 6.355
12 Reok Barat 4.381
Jumlah 98.932

Sumber : BPS Kecamatan dalam Angka Kabupaten Manggarai, 2020 (Diolah)

 

  • Piramida Penduduk

Penduduk Kabupaten Manggarai saat ini didominasi oleh penduduk yang berusia produktif (penduduk berusia 15-64 tahun) yaitu 64,58 %. Jika dilihat dari piramida penduduk yang ada pada gambar dibawah, piramida tersebut tergolong piramida ekspansif (muda). Artinya sebagian besar penduduk berusia muda, sedangkan penduduk usia lanjutnya sedikit. Sehingga diperlukan lapangan pekerjaan yang cukup untuk memenuhi jumlah angkatan kerja yang ada.

Gambar 2. Piramida Penduduk Kabupaten Manggarai
Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021

 

  • Proyeksi Penduduk

Berdasarkan proyeksi penduduk yang telah dilakukan, pada tahun 2041 penduduk Kabupaten Manggarai meningkat dari 312.855 jiwa (tahun 2020) menjadi 347.501 jiwa. Proyeksi tersebut menggunakan data jumlah penduduk dari tahun 2010 hingga 2020. Jumlah penduduk Kabupaten Manggarai pada tahun 2010 adalah 297.593 jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 2010-2020 adalah 0,5%, sehingga didapatkan hasil proyeksi seperti pada tabel berikut :

Tabel 7.

Proyeksi Penduduk di Kabupaten Manggarai

Tahun 2010 2015 2020 2021 2025 2030 2035 2041
Jumlah Penduduk (jiwa) 297.593 319.607 312.855 314.424 320.777 328.900 337.228 347.501

Sumber : Badan Pusat Statistik dalam angka (diolah), 2021

 

  • Kemiskinan

Gambaran kemiskinan di Kabupaten Manggarai selama tahun 2013-2020 dapat dilihat pada grafik di bawah. Jumlah penduduk miskin mengalami perkembangan fluktuatif hingga pada tahun 2020 mencapai 69.520 jiwa (20,34% dari keseluruhan).

Gambar 3. Jumlah Penduduk dan Garis Kemiskinan di Kabupaten Manggarai
Sumber: BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

Gambar 4. Indeks Keparahan dan Kedalaman Kemiskinan di Kabupaten Manggarai
Sumber: BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

 

Perumahan dan Kawasan Permukiman

  • Jumlah Bangunan dan Tipologi Permukiman

Berdasarkan data BPS Kecamatan Dalam Angka, jumlah penduduk pada Tahun 2019 adalah sebanyak 338.264 jiwa dengan jumlah rumah tangga 98.932. Jika diperkirakan 1 unit rumah dihuni oleh 1-2 KK, maka diperoleh jumlah unit rumah sebanyak 58.195 unit.

Tabel 8.

Asumsi Jumlah Rumah di Kabupaten Manggarai, 2021

No Kecamatan Penduduk (jiwa) Jumlah Rumah Tangga (2019) ** Rata-rata Jumlah Anggota Keluarga** Asumsi Rumah (1,7 KK/unit)
2020* 2019**
1 Satar Mese 33.917 37.418 10.345 4 6.085
2 Satar Mese Barat 18.944 20.774 5.889 4 3.464
3 Satar Mese Utara 14.854 16.465 4.839 3 2.846
4 Langke Rembong 65.626 67.355 21.982 4 12.931
5 Ruteng 41.533 45.422 13.218 3 7.775
6 Wae Rii 28.788 31.066 8.375 4 4.926
7 Lelak 12.111 13.331 3.771 4 2.218
8 Rahong Utara 22.180 24.877 7.189 3 4.229
9 Cibal 25.569 28.288 8.270 3 4.865
10 Cibal Barat 15.111 16.469 4.318 4 2.540
11 Reok 19.291 20.847 6.355 3 3.738
12 Reok Barat 14.931 15.952 4.381 4 2.577
  Jumlah 312.855 338.264 98.932 4 58.195

* Kabupaten Dalam Angka Tahun 2021

** Kecamatan Dalam Angka Tahun 2020

 

Di Kabupaten Manggarai belum terdapat perumahan yang dibangun oleh pengembang, namun terdapat Perumnas di Kelurahan Compang. Selain itu, terdapat rumah-rumah dinas dan rumah pegawai. Sampai saat ini belum terdapat rencana pembangunan rusunawa karena menunggu data backlog dan dokumen RP3KP, untuk dapat mengetahui kebutuhan perumahan.

Terkait dengan ketersediaan lahan yang dapat digunakan untuk perumahan tidak sulit, namun hanya membutuhkan dukungan dari dokumen terkait. Saat ini terdapat satu rusunawa yang sudah dibangun bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) St. Paulus Ruteng di Nekang, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong pada tahun 2013 oleh Kementerian Perumahan Rakyat. Saat ini juga belum terdapat pengembangan kasiba lisiba serta penyediaan lahan untuk kawasan transmigrasi.

Pada umumnya tipologi perumahan dan kawasan permukiman di Kabupaten Manggarai berada pada 3 (tiga) tipologi yaitu: dataran, pegunungan/perbukitan, dan pesisir pantai.

  1. Lingkungan permukiman di Kecamatan Satar Mese berada dalam tipologi dataran mengingat lahan pertanian dan pegunungan/perbukitan
  2. Lingkungan permukiman di Kecamatan Satar Mese Barat berada dalam tipologi pegunungan/perbukitan dan pesisir di bagian Selatan
  3. Tipologi perumahan Kecamatan Satar Mese Utara berupa dataran dan pegunungan/perbukitan sehingga dibutuhkan dana untuk membangun tembok penahan tebing
  4. Tipologi perumahan di Kecamatan Cibal Barat adalah kawasan pegunungan dengan kondisi bangunan teratur dan ada juga berada di bagian lereng atau tebing
  5. Tipologi perumahan Kecamatan Cibal berada di atas gunung dengan kondisi bangunan yang teratur, namun ada juga yang berada di dataran rendah dan lereng bukit
  6. Tipologi perumahan Kecamatan Reok sebagian berada kawasan pegunungan dan sebagian berada di kawasan pesisir sungai dan sebagian lagi berada di kawasan pesisir pantai
  7. Tipologi perumahan Kecamatan Langke Rembong pada daerah dataran dan perbukitan/pegunungan. Daerah dataran memiliki kondisi perumahan yang kumuh dan tidak teratur

 

Budaya bermukim di Kabupaten Manggarai dapat dirincikan sebagai berikut :

  1. Perkotaan Ruteng: tidak ada budaya bermukim yang khas
  2. Kecamatan Satar Mese: permukiman khas di lereng-lereng tersebar karena topografi, terutama di daerah Lembar Mocok
  3. Kecamatan Satar Mese Barat: permukiman khas di atas tebing terutama di daerah Kp. Tulang
  4. Kecamatan Satar Mese Utara: budaya bermukim yang khas ada di lereng-lereng karena terpengaruh dengan kondisi topografi berbukit. Penanganan: penyediaan tembok penahan
  5. Kecamatan Cibal Barat: budaya bermukim yang khas dari penduduk kecamatan Cibal bervariasi dan tergantung pada struktur tanah
  6. Kecamatan Cibal: memiliki budaya bermukim yang khas yakni ada sebagian di bantaran sungai, ada juga sebagian di bantaran tebing dan juga di dataran rendah
  7. Kecamatan Reok: permukiman khas di lereng-lereng tersebar karena topografi kecamatan yang berbukit

 

 

 

  • Status Penguasaan Bangunan

Status penguasaan bangunan merupakan salah satu indikator kesejahteraan penduduk bagian perumahan. Semakin banyak penduduk yang mempunyai rumah sendiri maka semakin banyak juga masyarakat yang tergolong mapan dan sejahtera terutama memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan data pada buku statistik kesejahteraan Nusa Tenggara Timur tahun 2020, persentase kepemilikan bangunan tertinggi di Kabupaten Manggarai adalah milik sendiri yaitu sebesar 88,06%. Berikut merupakan tabel persentase status penguasaan bangunan tahun 2018-2020 di Kabupaten Manggarai :

Tabel 9.

Persentase Status Penguasaan Bangunan

Status Penguasaan Bangunan Persentase (%)
2018 2019 2020
Milik Sendiri 83,86 85,44 88,06
Kontrak/Sewa 4,55 3,82 0,44
Bebas Sewa 9,41 7,29 6,54
Dinas/lainnya 2,19 3,45 3,57

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Luas Lantai Bangunan Setiap Rumah

Luas lantai bangunan merupakan indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan penduduk. Idealnya, sebuah keluarga harus menempati rumah dengan luas lantai minimal 8 kali jumlah anggota keluarganya. Di Kabupaten Manggarai, luas lantai yang mendominasi adalah 50-99 m2 yaitu 55,88%. Akan tetapi masih terdapat 2,27% bangunan yang memiliki luas lantai dibawah 20 m2. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan luas lantai di Kabupaten Manggarai tahun 2018-2020 :

Tabel 10.

Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Luas Lantai

Luas lantai (m²) Persentase (%)
2018 2019 2020
<19 3,29 1,27 2,27
20-49 35,16 39,6 27,81
50-99 50,04 49,49 55,88
100-149 8,17 6,99 9,55
150+ 3,33 2,65 4,49

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Luas Perkapita

Luas perkapita merupakan salah satu kriteria rumah layak huni. Berdasarkan publikasi BPS, luas perkapita minimal agar sebuah rumah dikatakan layak huni adalah ≥ 7,2 m2. Di Kabupaten Manggarai, luas perkapita yang mendominasi adalah ≥ 10 m2 yaitu 70,39%. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan luas perkapita di Kabupaten Manggarai pada tahun 2018-2020:

Tabel 11.

Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Luas Perkapita

Luas Perkapita (m²) Persentase (%)
2018 2019 2020
7,2 m² 12,96 12,03 10,65
7,3 – 9,9 m² 18,8 23,3 18,96
≥ 10 m² 68,24 64,67 70,39

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Atap Terluas

Bangunan berdasarkan atap terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan penutup bagian atas sebuah bangunan, sehingga anggota rumah tangga yang berada di rumah tersebut dapat terlindung dari terik matahari, hujan dan sebagainya. Pada Kabupaten Manggarai, sebanyak 98,63% rumah menggunakan seng sebagai atap. Berikut merupakan persentase bangunan berdasarkan jenis atap terluas di Kabupaten Manggarai tahun 2018-2020:

                                                                 Tabel 12.

Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Atap Terluas

Jenis Atap Persentase (%)
2018 2019 2020
Beton/Genteng/Asbes 0,68 0,73 1,15
Seng 99,09 98,96 98,63
Bambu/Kayu/Sirap 0,23 0,24 0,02
Jerami/Ijuk/Daun/Rumbia/Lainnya N/A 0,07 0,2

        Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Dinding Terluas

Bangunan berdasarkan dinding terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan sisi luar/batas/penyekat dari suatu bangunan dengan bangunan lain. Pada Kabupaten Manggarai, sebanyak 59,44% rumah menggunakan tembok/plesteran anyaman bambu/kawat sebagai dinding bangunan. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan dinding terluas di Kabupaten Manggarai pada tahun 2018-2020 :

Tabel 13.

Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Dinding Terluas

Jenis Dinding Persentase (%)
2018 2019 2020
Tembok/ Plesteran Anyaman Bambu/ Kawat 43,35 48,14 59,44
Kayu/papan 37,49 31,14 24,83
Anyaman bambu 7,35 10,81 6,9
Batang Kayu/ Bambu/Lainnya 11,81 9,91 8,83

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Jumlah Bangunan Berdasarkan Jenis Lantai Teratas

Bangunan berdasarkan jenis lantai terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan bagian bawah/dasar/alas suatu ruangan, baik terbuat dari marmer, keramik, granit, tegel/teraso, semen, kayu, tanah dan lainnya seperti bambu. Pada Kabupaten Manggarai, kebanyakan bangunan menggunakan semen/bata merah sebagai lantai yaitu 73,3% dari total bangunan. Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan jenis lantai terluas di Kabupaten Manggarai pada tahun 2018-2020:

                                                                       Tabel 14.

Persentase Jumlah Bangunan berdasarkan Jenis Lantai Terluas

Jenis Lantai Persentase (%)
2018 2019 2020
Marmer/Granit/Keramik/ Parket/Vinyl/ Karpet 10,43 10,26 11,27
Ubin/tegel/teraso 0,47 0,06 0,13
Kayu/papan 3,07 4,08 1,34
Semen/bata merah 75,06 74,15 73,3
Bambu/Tanah/ Lainnya 10,97 11,44 13,96

Sumber : Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021

 

  • Rumah Tidak Layak Huni

Berdasarkan data e-RTLH 2021, Kabupaten Manggarai memiliki baseline RTLH sebanyak 28.819 unit.

 

  • Kawasan Perumahan Kumuh

Pada tahun 2021, Kabupaten Manggarai memiliki total luasan kawasan kumuh sejumlah 102,38 Ha dengan kategori kumuh ringan. Kelurahan dengan kawasan kumuh terluas adalah Kelurahan Pitak, yaitu 26,76 Ha. Detail persebaran kawasan kumuh di Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 15.

Persebaran dan Luasan Kawasan Kumuh di Kabupaten Manggarai, 2021

No Kelurahan/Desa Luas Kawasan Kumuh (Ha) Kategori Kumuh
Kumuh Ringan (Ha) Kumuh Sedang (Ha) Kumuh Berat (Ha)
1 Lawir 2,50 2,50 0 0
2 Mbaumuku 2,38 2,38 0 0
3 Pitak 26,76 26,76 0 0
4 Wali 4,72 4,72 0 0
5 Golo Dukal 4,54 4,54 0 0
6 Watu 4,60 4,60 0 0
7 Tenda 7,68 7,68 0 0
8 Waso 8,92 8,92 0 0
9 Pau 6,46 6,46 0 0
10 Carep 21,21 21,21 0 0
11 Karot 12,61 12,61 0 0
Jumlah 102,38 102,38 0 0

Sumber: Dinas Perumahan Kabupaten Manggarai, 2021

  • Kampung Adat

Kabupaten Manggarai yang terdiri dari 145 desa, 52 desa persiapan dan 26 kelurahan yang masing-masingnya memiliki kampung adat. Simbol yang dapat dilihat dari suatu kampung adat adalah rumah adat atau dalam bahasa Manggarai Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Rumah adat orang manggarai berbentuk kerucut (mbaru niang . Mbaru = Rumah, Gendang/tembong = alat musik tradisional Manggarai yang dibuat dari kayu dan kulit kambing.

         

Gambar 5. Rumah Adat Kabupaten Manggarai
(Sumber: Pengamatan lapangan, 2021)

Konstruksi rumah adat di Kabupaten Manggarai bermacam-macam, ada yang memiliki pola konvensional seperti di Wae Rebo, Todo, Pongkor dan ada juga yang semi modern dengan menggunakan seng (penggunaan ijuk pada atap merupakan aturan tetapi ijuk sangat sulit untuk diperoleh).

Rumah adat dibangun dan dimanfaatkan untuk tempat tinggalnya tua-tua adat, tempat menyimpan harta benda warisan leluhur, tempat menerima tamu-tamu penting, tempat menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di kampung dan juga sebagai tempat dilaksanakan upacara-upacara adat.

Gambar 6. Rumah Gendang di Kec. Langke Rembong Kab. Manggarai
Sumber: Pengamatan lapangan, 2021

Tabel 15.

Persebaran Rumah Adat di Kabupaten Manggarai

No Lokasi Deskripsi
1 Kecamatan Satar Mese Bangunan rumah adat/tradisional adalah rumah adat Niang Pongkor, dan ada juga rumah penduduk yang berbentuk rumah adat Gendong.

 

 

 

 

2 Kecamatan Satar Mese Barat ●        Bangunan rumah adat/tradisional adalah Kampung Adat Wae Rebo dan ada juga rumah penduduk yang berbentuk rumah adat Gendang.

●        Kampung Adat Wae Rebo Terletak di ketinggian 1100 m di atas permukaan laut, di Pegunungan Flores. Dusun Wae Rebo adalah bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai. Desa ini mendapat penghargaan UNESCO Asia Pacific Award Heritage Conservation, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya pada tahun 2012. Selain karena keunikan dan keindahannya, nilai-nilai budaya suku Manggarai yang selaras dengan lingkungan sekitar adalah kunci yang membuat Desa Wae Rebo ini tetap lestari. Ada Lembaga Adat WaeRebo.

●        Pembangunan rumah adat Wae Rebo harus melalui upacara adat terlebih dahulu. Persiapan pembangunannya membutuhkan waktu hingga setahun, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Wae Rebo. Bahan-bahan bangunannya diambil secukupnya dari hutan yang mengelilingi Desa Adat Wae Rebo. Dibuat dari bahan kayu Worok, papan lantai dari kayu Ajang, balok-balok dari kayu Uwu dan atap menggunakan daun lontar yang ditutup dengan ijuk, membentang dari ujung atap sampai hampir menyentuh tanah.

●        Bentuk rumah panggung yang diterapkan menjadi rumah yang sesuai untuk kondisi alam di sekitar Desa Wae Rebo. Berdasarkan letak geografisnya, Desa Wae Rebo berada pada kawasan hutan liar, sehingga menjadi tempat perlindungan dari hewan buas.

●        Kondisi kampung adat terawat dibawah pengelolaan Lembaga Adat Dinas dan Kementerian Pariwisata

 

Kampung Adat Wae Rebo

3 Kampung Adat Todo (Kec. Satar Mese Utara ●       Memiliki rumah adat Todo yang juga merupakan wisata kampung adat Todo tepatnya di Desa Todo Kec. Satar Mese Utara.
    ●        Kampung Adat Todo terletak di Desa Kecamatan Satar Mese Utara. Kampung adat ini memiliki 9 rumah adat (1 rumah induk dan 8 rumah adat lainnya).

●        Kepengurusan wisata oleh organisasi pariwisata Kampung Todo (35 orang) perwakilan dari keluarga besar Todo (Panga/satu kesatuan dari keluarga besar) ada 9 rumah adat artinya ada 9 keluarga besar, yang juga tersebar di seluruh wilayah Manggarai. Sedangkan pengelolaan di dalam area wisata Todo (9 rumah adat dikelola oleh kelembagaan adat (pemangku adat yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara).

●        Pemeliharaan dan perbaikan rumah adat tergantung pendanaan dinas-dinas terkait. Sumber dana dari Dinas Pariwisata Tahun 2019 dengan kegiatan Rehab.

●        Untuk bangun baru, dana berasal dari donatur swasta, kebetulan dari 9 rumah adat yang sudah dibangun ada 6 rumah adat dan itu semua berasal dari dana donatur swasta, sedangkan dari pemerintah belum ada.

●        Belum pernah ada intervensi pemerintah dalam penyediaan PSU di kampung adat Todo, kecuali air bersih yang berasal dari dana desa yang sedang berjalan yaitu mengalokasikan dana untuk perluasan jaringan air termasuk pengadaan meteran air.

●        Permasalahan utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar di Kampung Adat Todo adalah air. Sumber air berasal dari mata air desa tetangga (Desa Gunung) dan pengalirannya kurang lancar. Untuk Tahun 2020 meteran yang disiapkan 200 unit meteran bertujuan untuk menjaga pengaliran air mengingat air yang tersedia terbatas.

●        Pernah tertimpa bencana dan yang hancur bagian atas rumah, sehingga Dinas Pariwisata mengucurkan dana rehab (Tahun 2019).

●        Kebanyakan proyek bagi Kp. Adat Todo berasal dari Pusat dan Provinsi. Ketua Organisasi Pariwisata pun mengusulkan untuk membangun 3 rumah adat, dengan arahan tujuan proposal ke Kementerian PUPR.

4 Kecamatan Reok Kecamatan Reok memiliki bangunan adat tradisional yang tersebar di hampir semua desa (rumah adat dan rumah gendang) dengan kondisi yang terawat dengan baik
5 Kecamatan Cibal Barat Kecamatan Cibal Barat memiliki kawasan adat tradisional yang tersebar di seluruh desa dengan kondisi terawat dan ada juga dana pemeliharaan dari Pemda berupa dana stimulan.

6 Kecamatan Cibal Kecamatan ini juga memiliki kawasan adat yang khas (rumah adat dan rumah geondong) yang mana kondisi terawat dan teratur dan juga diperhatikan oleh Pemda

 

 

 

 

 

Sumber: Wawancara dan Pengamatan Lapangan, 2021

Berdasarkan Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai tahun 2019, terdapat 8 kampung tua dan rumah adat dengan potensi daya tarik wisata tersebar di 4 kecamatan: Langke Rembong (3 lokasi), Cibal Barat (1 lokasi), Satar Mese Barat (3 lokasi), dan Satar Mese (1 lokasi).

Tabel 16.

Persebaran Kampung Tua dan Tradisional dengan Potensi Wisata di Kabupaten Manggarai

No Kecamatan Nama Objek Desa/Kelurahan
I Kec. Langke Rembong 1.       Kampung Ruteng Pu’u Kel. Golo Dukal
2.       Mbaru Wunut (Rumah Adat) Kel.Bangka Nekang
3.       Kampung Bangke Tuke Kel. Wali
II Kec. Cibal Barat 4.       Compang Cibal Desa Compang Cibal
III Kec. Satar Mese Utara 5.       Kampung Welo Desa Gulung
6.       Kampung Todo Desa Todo
IV Kec. Satar Mese 7.       Kampung Pongkor Desa Pongkor
V Kec. SatarMese Barat 8.       Kampung Wae Rebo Ds. Satar Lenda

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Manggarai, 2019

 

Prasarana dan Sarana Umum

  • Prasarana Jalan

Berdasarkan data BPS, prasarana jalan di Kabupaten Manggarai memiliki panjang ruas jalan 2.070,64 km yang 91,98% nya merupakan jalan kabupaten. Sebagian besar jalan sudah menggunakan aspal namun 46,94% masih berupa jalan kerikil, tanah, dan lainnya. Jika ditinjau dari kondisi jalannya, terdapat 38,56% jalan yang masuk kategori rusak-rusak berat. Rincian kondisi, jenis, dan tingkat kewenangan jalan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 17.

Tingkat Kewenangan, Kondisi, dan Jenis Jalan di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 Negara 120,94 5,84%
2 Provinsi 45,10 2,18%
3 Kabupaten 1.904,60 91,98%
Jumlah 2.070,64 100,00%
No Jenis Jumlah Persentase
1 Baik 1.164,09 56,22%
2 Sedang 108,24 5,23%
3 Rusak 199,78 9,65%
4 Rusak Berat 598,53 28,91%
Jumlah 2.070,64 100,00%
No Jenis Jumlah Persentase
1 Aspal 1.098,69 53,06%
2 Kerikil 324,18 15,66%
3 Tanah 274,35 13,25%
4 Lainnya 373,42 18,03%
Jumlah 2.070,64 100,00%

Sumber : BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

  • Prasarana Drainase

Kabupaten Manggarai berada pada ketinggian yang bervariasi, hal tersebut berpengaruh terhadap drainase. Seperti yang telah dijelaskan bahwa pengelolaan drainase lingkungan untuk Kabupaten Manggarai masih bersifat konvensional yaitu pola pembuangan limpasan air hujan dan air limbah domestik yang langsung diarahkan melalui pemanfaatan kondisi topografi yaitu mengalirkan air melalui alur-alur alam tanpa dilakukan pengolahan. Pada daerah pemukiman, jaringan drainase tanpa perkerasan dibangun oleh masyarakat sendiri. Pembangunan drainase yang selama ini dilakukan oleh pemerintah terfokus pada daerah perkotaan, dan masih banyak pemukiman khususnya di desa yang tidak memiliki saluran drainase, terutama karena limpasan air hujan ditampung sebagai salah satu sumber air bersih.

Tabel 18.

Prioritas Pembangunan Drainase Kota Ruteng Berdasarkan Lokasi Genangan, Saluran Eksisting, dan Sarana Publik, 2015

No Lokasi Genangan Skor Urutan Prioritas
1 Depan RSUD Ruteng 12 1
2 Jl. Diponegoro 9 9
3 Telkom s/d Belakang Pasar 10 4
4 Jln. Yos Sudarso 9 10
5 Jln. Adi Sucipto 10 5
6 Jl. Wae Ces Karot 9 11
7 Jln. Pelita Konggang 8 15
8 Jln. Pelita Relly TV – Katedral 10 6
9 Kampung Nekang 11 2
10 Jalan Raya Tenda 9 12
11 Jln. Satar Tacik (Bandara) 11 3
12 Lawir – Donggang – Lao 9 13
13 Pitak – Woang 9 14
14 Ahmad Yani (Carep) 10 7
15 SMA 2 & Jln. Glodial 10 8

Sumber: Masterplan Drainase Kota Ruteng, 2015

 

  • Prasarana Persampahan

Pengelolaan persampahan di Kabupaten Manggarai sudah dilakukan secara skala kota dimana masyarakat membuang sampah pada Tempat Pengumpulan Sementara (TPS), kemudian sampah tersebut akan diangkut menggunakan mobil sampah untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA). Penanganan Sampah di Kabupaten Manggarai belum optimal, berdasarkan data dari Dinas Kebersihan Kabupaten Manggarai sebagian produksi sampah per hari sudah diangkut menuju TPA Alak namun sisanya selain langsung dibakar oleh masyarakat, ada yang dibuang ke kali, pinggir pantai ataupun tanah kosong. Untuk meningkatkan pengelolaan sampah, di Kabupaten Manggarai sudah dilaksanakan proses pengolahan sampah melalui metode 3R atau mengurangi, menggunakan dan mendaur ulang sampah menjadi pupuk ataupun produk lain yang bernilai ekonomi,metode ini sudah dilaksanakan di kelurahan Batuplat dan Namosain.

Berdasarkan data, setiap tahunnya jumlah produksi sampah mengalami penurunan sebagaimana adanya penurunan jumlah penduduk. Pada tahun 2020, jumlah sampah per harinya diperkirakan ada sekitar 782.137,5 m3 per hari. Pelayanan jaringan persampahan ini telah mencakup 63,11 km2 dengan melayani sekitar 65.626 jiwa.

Selanjutnya dilihat dari prasarana transportasi khusus pengangkutan sampah, Kabupaten Manggarai mempunyai 4 truk, 4 arm roll, 8 angkutan roda 3, dan 8 kontainer. Berikut ini rincian dari kondisi prasarana persampahan di Kabupaten Manggarai.

 

Tabel 19.

Kondisi Prasarana Persampahan di Kabupaten Manggarai

No Uraian Satuan Besaran
2016 2017 2018 2019 2020
Data Pengumpulan Sampah
1 Jumlah Penduduk Jiwa 353.331 323.976 329.236 338.264 312.855
2 Asumsi Produksi Sampah Lt/Org/hr 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
3 Asumsi Produksi Sampah m³/hr 883.327.5 809.940 823.090 845.660 782.137.5
4 Cakupan Layanan Geografis Km² 63.11 63.11 63.11 63.11 63.11
5 Cakupan Layanan Penduduk Jiwa 71.417 79.150 81.375 67.355 65.626
Data Transportasi Sampah
1 Jumlah Pelayanan Terangkut m³/hr 72 108 108 108 144
2 Jumlah Truck Unit 2 3 3 3 4
3 Jumlah Arm Roll Unit 2 3 3 3 4
4 Jumlah Roda 3 Unit 11 11 16 16 8
5 Jumlah Container/Transfer Depo Unit 2 3 3 6 8
6 TPS  

                                                       Sumber : DPRKP Kab. Manggarai, 2021

 

Berdasarkan RPIJM 2010-2015, Kabupaten Manggarai pun juga memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu TPA Poco milik Pemerintah Daerah Kabupaten Malaka dengan luas 4,54 ha. Sistem pengolahan sampah adalah open dumping dengan jarak dengan pemukiman terdekat adalah 0,2 km. Berdasarkan informasi dari RTRW Kabupaten Manggarai, sistem pengelolaan persampahan terdiri atas:

  1. mengembangkan sistem pengelolaan persampahan menjadi sistem berlapis-lapis (sanitary landfill) dan kapasitas pelayanan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ncolang Kelurahan Karot dengan wilayah cakupan semua kelurahan di Kecamatan Langke Rembong;
  2. mengembangkan tempat penampungan sampah terpadu sesuai dengan kebutuhan berdasarkan prediksi perkembangan penduduk;
  3. mengembangkan prasarana dan sarana persampahan untuk mencukupi kebutuhan mulai dari lingkungan permukiman terkecil hingga skala pelayanan perkotaan; dan
  4. menerapkan peraturan zonasi kawasan sekitar TPA yang akan diatur lebih detail dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan peraturan z

 

  • Prasarana Telekomunikasi

Pada tahun 2021, Kabupaten Manggarai memiliki total jumlah menara telekomunikasi sebanyak 76 buah. Detail persebaran jumlah menara telekomunikasi per kecamatan di Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 20.

Menara Telekomunikasi di Kabupaten Manggarai

No Kecamatan Jumlah
1 Langke Rembong 34
2 Satar Mese 4
3 Satar Mese Barat 2
4 Satar Mese Utara 3
5 Ruteng 10
6 Rahong Utara 4
7 Reok Barat 3
8 Reok 5
9 Cibal 6
10 Cibak Barat 1
11 Wae Ri’i 5
12 Lelak 4
Total 80

Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, 2020

Sarana telekomunikasi lain yang digunakan selama tahun 2019-2020 adalah bantuan internet gratis oleh Dinas Kominfo. Detail persebaran bantuan internet gratis Dinas Kominfo dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 21.

Bantuan Internet Gratis oleh Kominfo di Kabupaten Manggarai, 2019-2020

No Nama Lokasi Jumlah
1 Fasilitas Pendidikan

·      SMP

·      SMA/SMK

 

2

4

2 Fasilitas Kesehatan

·      Rumah sakit

·      Puskesmas

·      Polindes

 

1

23

1

3 Fasilitas Keagamaan

·      Keuskupan Ruteng

·      Pastoran

 

1

1

4 Fasilitas Pemerintahan

·      Kantor camat

·      Kantor desa

 

1

1

Total 35

Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, 2020

 

 

  • Jaringan Listrik dan Penerangan

Rincian konsumsi dan produksi listrik di Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 22.

Profil Kelistrikan di Kabupaten Manggarai

Tahun Daya Terpasang (KW) Produksi Listrik (KWh) Listrik Terjual (KWh)
2020 93.776.150 74.914.862 72.238.131.739

Sumber : BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)

 

Sedangkan untuk jaringan penerangan, sumber penerangan masyarakat Kabupaten Manggarai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 23.

 Data Sumber Penerangan di Kabupaten Manggarai

No. Jenis Perkotaan Pedesaan Total
1 Listrik PLN dengan Meteran 91,47% 47,43% 59,82%
2 Listrik PLN Tanpa Meteran 7,79% 17,73% 14,93%
3 Listrik Non PLN 0,00% 23,83% 17,12%
4 Bukan Listrik 0,74% 11,01% 8,13%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber: Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

 

  • Jaringan Air Minum

Sumber air minum di Kabupaten Manggarai sebagian besar berasal dari mata air terlindung (43,04%) dan ledeng meteran (40,77%). Perincian sumber air minum dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 24.

Sumber Air Minum di Kabupaten Manggarai

No Jenis Perkotaan Perdesaan Total
1 Air Kemasan 0,00% 0,00% 0,00%
2 Air Isi Ulang 3,02% 0,00% 0,85%
3 Ledeng Meteran 75,69% 27,11% 40,77%
4 Sumur Bor 7,26% 0,00% 2,04%
5 Sumur Terlindung 4,31% 5,61% 5,25%
6 Sumur Tak Terlindung 4,53% 1,37% 2,26%
7 Mata Air Terlindung 5,19% 57,86% 43,04%
8 Mata Air Tak Terlindung 0,00% 7,04% 5,06%
9 Air Permukaan, Hujan dan Sumber Tidak Terlindung 0,00% 1,01% 0,73%
10 Air Hujan 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah 100,00% 100% 100%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

 

Untuk kualitas air minum, sebanyak 75,62% penduduk mengakses air minum bersih sehingga prasarana air minum menjadi salah satu prasarana yang perlu ditingkatkan di Kabupaten Alor.

 

  • Sarana Sanitasi

Sarana sanitasi Kabupaten Manggarai dapat ditinjau dari jenis tempat pembuangan akhir tinja serta kepemilikan fasilitas pembuangan akhir tinja. Di Kabupaten Manggarai, dominasi jenis tempat pembuangan akhir tinja adalah lubang tanah sebesar 59,53%. Perinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 25.

Jenis Tempat Pembuangan Akhir Tinja di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 IPAL/ Septic Tank 38,45%
2 Lubang Tanah 59,53%
3 Lainnya 2,02%
Jumlah   100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

 

Berdasarkan kepemilikannya, sebanyak 74,30% masyarakat telah memiliki fasilitas BAB sendiri. Sedangkan terdapat 6,44% masyarakat yang tidak memiliki fasilitas BAB.

Tabel 26.

Kepemilikan Fasilitas BAB di Kabupaten Manggarai

No Jenis Perkotaan Pedesaan Total
1 Sendiri 83,06% 70,87% 74,30%
2 Sendiri namun Bersama 16,11% 16,43% 16,34%
3 Komunal 0,83% 3,75% 2,92%
4 Tidak Ada Fasilitas 0,00% 8,95% 6,44%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020

 

 

  • Sarana Peribadatan

Sarana peribadatan di Kabupaten Manggarai terdiri dari masjid, musholla, gereja protestan, gereja katolik, pura, dan vihara. Jumlah sarana peribadatan di Kabupaten Manggarai terangkum dalam tabel di bawah ini :

Tabel 27.

Jumlah Fasilitas Peribadatan di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 Masjid 21 8,71%
2 Musholla 14 5,81%
3 Gereja Protestan 8 3,32%
4 Gereja Katolik 197 81,74%
5 Pura 1 0,41%
6 Vihara 0,00%
Jumlah 241 100,00%

Sumber : BPS Provinsi NTT Dalam Angka, 2021

 

  • Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan di Kabupaten Manggarai terdiri dari SD, SMP, SMA, SMK, dan Universitas. Jumlah Sarana pendidikan di Kabupaten Manggarai terangkum dalam tabel di bawah ini :

Tabel 28.

Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 SD 180 61,43%
2 SMP 73 24,91%
3 SMA 25 8,53%
4 SMK 12 4,10%
5 Universitas 3 1,02%
Jumlah 293 100,00%

Sumber : BPS Provinsi NTT Dalam Angka, 2021

 

  • Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan terdiri dari rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, puskesmas pembantu, dan apotek. Jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Manggarai terangkum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 29.

Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 Rumah Sakit 2 1,89%
2 Rumah Sakit Bersalin 0,00%
3 Poliklinik 1 0,94%
4 Puskesmas 23 21,70%
5 Puskesmas Pembantu 61 57,55%
6 Apotek 19 17,92%
Jumlah 106 100,00%

Sumber : Kabupaten Manggarai Dalam Angka, 2020

  • Sarana Perdagangan

Sarana perdagangan terdiri pasar, toko, kios, dan warung. Jumlah sarana perdagangan di Kabupaten Manggarai terangkum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 30.

Jumlah Sarana Perdagangan di Kabupaten Manggarai

No Jenis Jumlah Persentase
1 Pasar 19 5,11%
2 Toko 109 29,30%
3 Kios 108 29,03%
4 Warung 136 36,56%
Jumlah 372 100,00%

Sumber : Kabupaten Manggarai Dalam Angka, 2020

 

  • Ruang Terbuka Hijau

Berdasarkan SK.7875/MenLHK-PHPL/KPHP/HPL.0/12/2020, Kabupaten Manggarai memiliki kawasan hutan dengan luas total 134.236,66 ha, meliputi area penggunaan lain (106.201,85 ha), hutan lindung (17.472,46 ha), hutan produksi konversi (1.136,26 ha), dan kawasan suaka alam darat (9.426,09 ha). sedangkan kawasan perkebunan seluas 37.127,08 ha dan kawasan pertanian 26.579,60 ha (pertanian lahan basah 3.782,34 ha dan pertanian lahan kering 22.797,26 ha).